Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Pascabanjir dan Longsor, Ratusan KK di Hutanabolon Masih Kekurangan Air Bersih

Editor Satu • Selasa, 13 Januari 2026 | 12:40 WIB
Material longsor berupa tanah, batu, dan kayu yang telah dibersihkan dari badan jalan pascabanjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Material longsor berupa tanah, batu, dan kayu yang telah dibersihkan dari badan jalan pascabanjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

TAPTENG, METRODAILY — Warga Lorong I, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, hingga kini masih mengalami krisis air bersih pascabencana banjir dan longsor yang terjadi pada Selasa (25/11/2025) lalu.

Ketersediaan air bersih dinilai belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan ratusan kepala keluarga (KK) yang terdampak.

Sejak bencana tersebut, sumber utama air bersih warga rusak dan tidak lagi berfungsi. Pemerintah telah membangun dua unit sumur bor sebagai solusi sementara.

Namun, jumlah tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan 211 KK yang bermukim di Lorong I.

“Waduh, kuranglah Pak. Dan kalau air dari PAM, mungkin setahun ini belum ada tanda-tanda,” ujar Kepala Lingkungan I Kelurahan Hutanabolon, Rasokki Panggabean (57), Minggu (11/1/2026).

Rasokki menjelaskan, kerusakan infrastruktur menjadi kendala utama pemulihan pasokan air bersih. Jalan daerah di Lorong IV, yang merupakan lokasi sumber air, mengalami kerusakan parah akibat longsor.

Selain itu, kondisi sungai juga belum kembali normal, sehingga pasokan air dari Perusahaan Air Minum (PAM) belum dapat dialirkan ke permukiman warga.

Akibat keterbatasan tersebut, warga terpaksa bergantian menampung air dari sumur bor yang tersedia. Mereka juga masih mengandalkan bantuan distribusi air bersih dari pemerintah.

“Ada air dari BNPB, tapi tidak setiap hari. Paling cukup untuk satu ember per kepala keluarga, dan biasanya datang siang hari,” ungkap Rasokki.

Ia menambahkan, satu unit sumur bor dibangun di tengah permukiman warga, sementara satu unit lainnya berada di area sekolah. Selain krisis air bersih, aktivitas warga juga belum pulih sepenuhnya.

“Belum bisa berladang, karena semua hancur tertimbun lumpur. Sekolah juga belum pulih, masih menggunakan sekolah darurat,” katanya.

Dampak bencana di Lorong I tergolong luas. Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan berat dan tidak lagi layak huni.

Meski tidak ada korban jiwa, sebagian warga masih harus mengungsi ke posko pengungsian Simpang Sipange, Kecamatan Tukka, sementara lainnya tinggal sementara di rumah kerabat. (net)

Editor : Editor Satu
#Pascabanjir #tapanuli tengah #kekurangan air bersih