TAPSEL, METRODAILY- Tim Ahli Institut Pertanian Bogor (IPB) membedah penyebab banjir bandang Sungai Garoga di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan pada 25 November 2025 lalu, dan kaitannya dengan perusahaan sawit PT Tri Bahtera Srikandi (TBS).
Kajian akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini dilaksanakan pada Jumat (9/1/2026) di Kampus IPB Baranangsiang, Kota Bogor. Dan menyodorkan kesimpulan bahwa proses alam salah satu faktor yang membuat banyak tanah longsor.
Akademisi IPB itu di antaranya Prof Dr Yanto Santosa, Dr Ir Basuki Sumawinata, dan Dr Ir Idung Risdiyanto. Ketiganya diketahui sebagai akademisi yang fokus dalam kajian kehutanan, tanah, dan hidrologi.
Dr Basuki Sumawinata menjelaskan, kajian tentang penyebab Banjir Garoga ini tidak dimaksudkan untuk mengonfrontasi pihak mana pun. Fokusnya adalah melengkapi informasi publik dengan data yang berbasis kajian ilmiah.
“Kami ingin menambah informasi yang valid dan akurat agar tidak terjadi salah tafsir. Ini bukan soal membela, apalagi menyerang. Ini soal data,” ujarnya dalam rilis yang diterima pada Sabtu (10/1/2026).
Dari kajian ini, ada tiga faktor penyebab, di antaranya curah hujan tinggi yang memungkinkan tercapainya batas mencair (Liquid Limit) tanah.
Kemudian, adanya batuan induk yang merupakan liat masiv membuat air tidak bisa meresap jauh ke dalam bumi, ditambah solum yang tipis memungkinkan cepat tercapainya batas mencair pada perbatasan tanah dan batuan induk.
“Pada lereng-ereng yang curam biasanya solum tanahnya tipis. Selain hal tersebut di atas faktor bobot tumbuhan di atas tanah juga mendorong terjadinya longsor ini, karena bobot tanaman beserta akarnya bergerak pada bidang lincir yakni perbatasan solum dengan batuan induk yang masiv,” katanya merujuk pada pepohonan berakar dan lumpur tebal di bekas banjir Sumatra.
Ahli ini juga melihat beberapa anak sungai yang berada di sekitar areal kebun PT TBS. Dan tidak berhubungan langsung pada Sungai Garoga.
Para ahli ini berkesimpulan, tidak terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa kegiatan TBS merupakan penyebab utama dari kejadian banjir bandang dan longsor di DAS Garoga.
Hal ini juga dikaitkan dengan sejumlah narasumber dari masyarakat sekitar PT TBS di Kecamatan Sipabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Dan tudingan TBS sebagai penyebab banjir, dianggap menyederhanakan penyebab banjir dan longsor hanya kepada satu pelaku usaha. Dan tidak memenuhi asas kehati-hatian ilmiah dan asas kepastian hukum.
Penilaian kejadian banjir dan longsor harus dilakukan pada skala DAS secara menyeluruh, bukan parsial pada satu entitas usaha. Diperlukan kajian terpadu lintas disiplin (hidrologi, geologi, klimatologi) sebelum penetapan tanggung jawab hukum.
Kemudian, dalam kajian ini seluruh stakeholder harus mengambil pelajaran penting yaitu konsep yang selama ini dianut bahwa hutan meresapkan air, mampu mengurangi erosi tanah, itu memang berlaku pada jenis tanah yang bersolum dalam dan relatif datar.
Akan tetapi, pada lahan yang sangat curam dengan solum tanah tipis serta berada langsung di atas batuan yang kedap air, dan apabila terjadi curah hujan yang luar biasa membuat lapisan tanah di perbatasan antara solum tanah dengan batuan induk mencair, maka vegetasi hutan yang memiliki bobot yang besar justru lebih mudah menyebabkan longsor.
“Jadi kami berkesimpulan bahwa kayu-kayu yang terangkut akibat dari dampak Siklon tropis Senyar 25 November 2025 itu sebagian besar adalah peristiwa alamiah,” katanya.
Sementara itu, menurut perwakilan TBS, areal izin lokasi PT TBS (seluas 2.497.52 ha) belum seluruhnya dikuasai atau diganti rugi oleh perusahaan.
Hal ini dikarenakan tidak sedikit warga masyarakat selaku pemilik lahan yang belum bersedia untuk dibeli lahannya oleh PT TBS. (SAN)
Editor : Editor Satu