TAPUT, METRODAILY – Memasuki hari ke-44 pascabencana banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara, sembilan desa di Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Tapanuli Utara (Taput) masih terisolir akibat material longsor yang menutup akses jalan utama.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, menjelaskan bahwa desa-desa terdampak tersebar di enam kecamatan, dengan total ratusan Kepala Keluarga (KK) yang kesulitan memperoleh bantuan.
Baca Juga: Mantan Polisi Bacok Sarlen Hasugian, Luka Parah di Kepala & Perut
Di Kabupaten Tapteng, desa terdampak berada di empat kecamatan:
-
Tukka: Desa Saur Manggita (102 KK) dan Desa S. Kalangan 2 (214 KK)
-
Sibabangun: Desa Sibio-bio (206 KK)
-
Lumut: Desa Sialogo (254 KK)
-
Sitahuis: Desa Naga Timbul (259 KK)
Sementara di Kabupaten Taput, desa terisolir berada di dua kecamatan:
-
Sipoholon: Desa Rura Julu Toruan (6 KK)
-
Parmonangan: Desa Hutajulu Parbalik (86 KK), Desa Hutatua (126 KK), dan Desa Pertengahan (178 KK)
Baca Juga: ASN Toba Cemas, Gaji Januari 2026 Bisa Tertunda hingga 3 Bulan
Sri Wahyuni mencatat kemajuan di Kecamatan Parmonangan. Awalnya terdapat enam desa yang terisolir, kini tersisa tiga desa. Bantuan logistik terus disalurkan menggunakan cara alternatif, mulai dari berjalan kaki, kendaraan roda dua jenis trail, hingga helikopter untuk menjangkau lokasi paling sulit.
“Pembersihan material longsor masih terus dilakukan. Kondisi medan berat dan volume longsoran besar menjadi tantangan utama, namun beberapa wilayah sudah bisa dilalui kendaraan roda dua,” pungkas Sri Wahyuni. (net)
Editor : Editor Satu