ASAHAN, METRODAILY — Aliansi Pemuda dan Mahasiswa se-Kabupaten Asahan menggelar aksi simpatik 1.000 lilin untuk mengenang Pratu Farkhan Sauqi Marpaung, prajurit TNI Angkatan Darat asal Asahan yang meninggal dunia saat bertugas di wilayah perbatasan Papua dan diduga menjadi korban penganiayaan seniornya.
Aksi tersebut berlangsung di Kafe Beno, Jalan Malik Ibrahim, Kisaran, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Sabtu (3/1/2026) malam. Selain sebagai bentuk duka cita, massa juga mendesak Polisi Militer TNI mengusut tuntas kasus kematian Pratu Farkhan.
Koordinator aksi, Solahuddin Marpaung, mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk penghormatan terakhir sekaligus suara keprihatinan atas gugurnya putra daerah Asahan saat menjalankan tugas negara.
Baca Juga: Diduga Dianiaya Senior Saat Bertugas di Papua, Pratu Farkhan Dimakamkan di Asahan
“Kami turut berbelasungkawa atas kepergian adik kami, Pratu Farkhan Sauqi Marpaung, yang gugur saat bertugas di Papua. Kami meminta Panglima TNI dan KSAD mengusut tuntas kasus ini,” ujar Solahuddin.
Ia menegaskan, oknum senior berinisial Kopda F yang diduga terlibat penganiayaan harus diproses hukum secara tegas hingga pemecatan apabila terbukti bersalah.
“Kami tidak ingin ada lagi prajurit muda yang meninggal sia-sia. Banyak anak Asahan yang bertugas ke Papua. Kejadian ini sangat melukai rasa keadilan kami,” tegasnya.
Baca Juga: Gubsu Bobby Lantik 4 Pejabat Eselon II, Tegaskan Kerja Cepat dan Tepat Pascabencana
Solahuddin juga menyinggung kunjungan KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak ke Kabupaten Asahan beberapa waktu lalu, yang menurutnya menjadi harapan agar kepedulian pimpinan TNI diwujudkan melalui pengusutan kasus secara transparan.
Sebelumnya, Komandan Brigif 25/Siwah Kolonel Infanteri Dimar Bahtera, saat memimpin upacara pemakaman militer Pratu Farkhan, mengakui adanya dugaan kekerasan terhadap korban.
“Adik kita meninggal karena sakit, dan memang ada dugaan kekerasan. Namun kejadiannya berada di daerah penugasan, sehingga ada mekanisme dan proses dalam pemeriksaan dan penyelidikan,” kata Dimar.
Baca Juga: Arus Balik Nataru, Personel Gabungan Perketat Pengamanan di Stasiun KA Tanjungbalai
Ia juga menyampaikan bahwa Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto telah memerintahkan pengusutan kasus tersebut. Saat ini, satu orang terduga pelaku telah ditahan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Kedatangan Jenazah Disambut Tangis Histeris
Sementara itu, suasana duka mendalam menyelimuti rumah keluarga Pratu Farkhan di Desa Hessa Air Genting, Kecamatan Air Batu, Kabupaten Asahan, saat jenazah tiba, Sabtu (3/1/2026) dini hari.
Kedua orang tua korban menunjukkan reaksi berbeda. Zakaria Marpaung, sang ayah, tampak tegar meski kesedihan jelas terpancar dari sorot matanya. Sebaliknya, Marsinah Wati Silalahi, ibu korban, tak kuasa menahan duka dan terlihat histeris saat peti jenazah putranya diturunkan.
Baca Juga: Gotong Royong Bersama Warga, Telkomsel Pulihkan Jaringan di Desa Pulo Gelime, Gayo Lues
Isak tangis keluarga pecah, bahkan beberapa kerabat dilaporkan sempat pingsan. Zakaria terlihat berupaya menenangkan keluarga yang larut dalam kesedihan dan menjadi orang terakhir yang masuk ke rumah saat peti jenazah dibuka.
Pembukaan peti jenazah hanya disaksikan keluarga inti dan tidak diperkenankan untuk didokumentasikan. Marsinah tampak terkulai lemas di samping peti sambil berulang kali menyebut nama anaknya.
“Anakku sudah pulang, anakku,” ucapnya lirih.
Kasus meninggalnya Pratu Farkhan Sauqi Marpaung kini memasuki babak baru, seiring pengakuan TNI terkait dugaan kekerasan yang dialami almarhum saat bertugas di wilayah operasi perbatasan Indonesia–Papua Nugini. (net)
Editor : Editor Satu