MEDAN, METRODAILY — Arus kendaraan mulai meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Salah satu ruas yang diperkirakan mengalami lonjakan signifikan adalah Tol Kualanamu–Tebing Tinggi–Parapat (Kutepat), dengan volume lalu lintas harian yang diprediksi mendekati 20 ribu kendaraan per hari.
Direktur Utama PT Hutama Marga Waskita (Hamawas) Dindin Solakhuddin mengatakan, pada hari normal ruas Tol Kutepat dilintasi sekitar 7.000 kendaraan per hari. Namun, angka tersebut berpotensi melonjak tajam selama periode libur akhir tahun.
“Pada momen Nataru, volume lalu lintas di ruas Kutepat biasanya hampir mendekati 20 ribuan kendaraan per hari,” ujar Dindin, Minggu (21/12).
Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Nataru, Kapolres Simalungun Sidak Kelayakan Kapal di Pelabuhan Tigaras
Menurut dia, peningkatan arus kendaraan diperkirakan mulai terjadi sejak H-3 Natal, 22 Desember 2025, dengan puncak arus balik pada H+4 atau 5 Januari 2026. Lonjakan lalu lintas juga diprediksi berlangsung sepanjang akhir pekan selama periode libur.
Dindin menyebut, kepadatan lalu lintas terutama dipicu meningkatnya mobilitas masyarakat yang hendak berwisata ke kawasan Danau Toba, yang menjadi destinasi favorit selama libur Nataru.
“Trennya, peningkatan lalu lintas di ruas Kutepat biasanya terjadi pada Sabtu dan Minggu karena banyak pengendara menuju Danau Toba,” katanya.
Baca Juga: Antisipasi Lonjakan Mudik Nataru, Polres Simalungun Buka Pos Yan Khusus di Tol Simpang Panei
Untuk mengantisipasi kepadatan dan menjaga kenyamanan pengguna jalan, pengelola tol telah menyiapkan sejumlah fasilitas pendukung, termasuk pengoperasian rest area KM 99 A dan B di ruas Tol Tebing Tinggi–Indrapura.
Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) KM 99 mulai difungsikan pada Nataru 2025/2026 dengan kapasitas parkir 173 kendaraan kecil, 26 kendaraan besar, dan dua slot khusus disabilitas.
Rest area ini juga dilengkapi 24 gerai UMKM serta galeri budaya yang menampilkan sejarah dan kekayaan budaya Sumatera Utara.
“TIP KM 99 tidak hanya menjadi tempat beristirahat, tetapi juga ruang untuk mengenal kembali akar budaya dan identitas daerah yang menjadi bagian dari perjalanan,” pungkas Dindin. (dtc)
Editor : Editor Satu