Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Air Sumur Bor di Tapsel Bisa Terbakar, Diduga Ada Gas di Bawah Tanah

Editor Satu • Senin, 22 Desember 2025 | 13:40 WIB
Fenomena air sumur bor yang sempat terbakar di Dusun Mabang, Tapanuli Selatan, diduga akibat kandungan gas di bawah permukaan tanah pascabanjir bandang.
Fenomena air sumur bor yang sempat terbakar di Dusun Mabang, Tapanuli Selatan, diduga akibat kandungan gas di bawah permukaan tanah pascabanjir bandang.

TAPSEL, METRODAILY — Fenomena air sumur bor yang sempat terbakar di Dusun Mabang, Desa Muara Huta Raja, Kecamatan Muara Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, memicu kekhawatiran warga. Api muncul ketika air sumur disulut dengan mancis, tak lama setelah wilayah tersebut dilanda banjir bandang.

Mantan Bupati Tapanuli Selatan periode 2005–2010, Dr Ir Ongku P. Hasibuan, menilai peristiwa tersebut hampir pasti berkaitan dengan kandungan gas di bawah permukaan tanah. Gas itu bisa berupa hidrokarbon dari minyak bumi atau gas metana.

“Kalau air bisa terbakar, itu tanda kuat ada gas di bawah tanah. Masyarakat sebaiknya tidak mendekat dulu ke lokasi,” ujar Ongku dari Jakarta melalui sambungan WhatsApp, Sabtu (20/12/2025).

Baca Juga: Relawan SPPG Dibegal Usai Bertugas, Satu Pelaku Dikejar hingga Deliserdang

Ongku mengingatkan warga untuk mewaspadai bau menyengat, terutama aroma seperti telur busuk. Bau tersebut bisa menjadi indikasi gas hidrogen sulfida (H₂S), jenis gas beracun yang berbahaya bagi kesehatan bahkan mematikan pada konsentrasi tertentu.

“Yang berbahaya, ketika bau itu tiba-tiba tidak tercium lagi. Bukan gasnya hilang, tapi indera penciuman kita yang sudah lumpuh. Itu justru kondisi paling berisiko,” kata Ongku.

Doktor lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang lama berkecimpung di sektor minyak dan gas itu menjelaskan, jika gas yang keluar hanya berupa metana, tingkat risikonya relatif lebih rendah.

Gas metana dapat terbentuk dari pembusukan bahan organik, termasuk limbah manusia dan hewan, bahkan dari septic tank.

Baca Juga: Teken Verifikasi IPPR di Jakarta, Labura Kunci Arah Tata Ruang Baru

“Dalam banyak kasus, metana justru dimanfaatkan sebagai energi alternatif. Kotoran ternak dan manusia saja bisa diolah jadi gas memasak,” ujarnya.

Namun, Ongku menegaskan situasi akan berbeda jika gas yang muncul merupakan hidrokarbon dari minyak bumi dan dalam volume besar. Dalam konteks tertentu, potensi itu bisa menjadi sumber energi, tetapi hanya jika dikelola dengan kajian teknis yang ketat.

Meski demikian, Ongku menilai belum ada kesimpulan yang bisa ditarik sebelum dilakukan pemeriksaan langsung di lapangan. Ia menyarankan pengambilan sampel gas untuk dianalisis menggunakan alat gas analyzer.

Baca Juga: 72 Hari Operasi, Polrestabes Medan Tangkap 34 Tersangka Narkoba

“Harus dicek langsung di lokasi, diambil sampelnya, baru bisa dipastikan jenis gas dan tingkat bahayanya,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar kejadian tersebut segera dilaporkan ke instansi terkait, baik pemerintah daerah, akademisi bidang geologi dan kimia, maupun pihak Pertamina, untuk memastikan keselamatan warga.

“Untuk sementara, masyarakat jangan mendekat dulu ke sumber air sumur itu sampai benar-benar diketahui aman atau tidak,” katanya.

Ongku kembali menegaskan bahaya gas H₂S yang kerap luput dari perhatian. Menurutnya, konsentrasi di atas 100 ppm sudah berbahaya, 100–300 ppm dapat menyebabkan kerusakan otak serius, dan di atas 300 ppm berpotensi menyebabkan kematian dalam waktu singkat.

Baca Juga: Kejari Tanjungbalai Selamatkan Rp851 Juta Kerugian Negara Sepanjang 2025

Sebelumnya, video air sumur bor yang terbakar di Dusun Mabang viral di media sosial. Peristiwa itu terjadi pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut, setelah warga mencoba menyulut air dengan mancis. (net)

Editor : Editor Satu
#Air Sumur Bor