Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Pemerhati Lingkungan Desak Bareskrim Usut Menyeluruh Penyebab Bencana Ekologis Tapanuli

Editor Satu • Kamis, 18 Desember 2025 | 12:30 WIB
Jembatan di Desa Anggoli, Sibabangun, ambruk dihantam banjir bandang, memutus akses utama Tapsel–Tapteng.
Jembatan di Desa Anggoli, Sibabangun, ambruk dihantam banjir bandang, memutus akses utama Tapsel–Tapteng.

TAPTENG, METRODAILY– Pemerhati lingkungan hidup, Dzulfadli Tambunan, mendukung penuh langkah Bareskrim Polri dalam menyelidiki penyebab bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Tapanuli.

Namun, ia meminta agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dan tidak terfokus pada satu titik bencana saja.

Menurut Dzulfadli, bencana ekologis yang terjadi pada akhir November 2025 lalu bukan peristiwa lokal, melainkan melanda sejumlah wilayah, khususnya di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.

“Ini bukan bencana yang hanya menghantam satu desa. Beberapa kabupaten terdampak. Karena itu, kami meminta Bareskrim Polri melakukan penyelidikan dengan ruang lingkup lebih luas, termasuk wilayah Tukka, Sorkam, dan Badiri,” ujar Dzulfadli, Rabu (17/12/2025).

Pria yang telah puluhan tahun bermukim di Kecamatan Sibabangun tersebut menilai, banjir bandang yang menghantam Desa Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan, memiliki keterkaitan erat dengan bencana serupa yang lebih dulu melanda Desa Sibiobio dan Desa Muara Sibuntuon di Kabupaten Tapanuli Tengah.

“Banjir bandang di Garoga tidak berdiri sendiri. Peristiwa ini saling bertautan dengan banjir bandang di Sibiobio dan Muara Sibuntuon,” tegasnya.

Ia menjelaskan, puluhan ribu meter kubik kayu gelondongan yang kemudian ditemukan berhamburan di Sungai Garoga sebelumnya hanyut dari Sungai Muara Sibuntuon dan Sungai Sosopan (Sibiobio), yang merupakan anak Sungai Garoga.

“Penyelidikan tidak boleh hanya fokus pada penyebab banjir bandang Desa Garoga, tetapi juga harus menyasar penyebab banjir bandang di Sibiobio dan Muara Sibuntuon,” katanya.

Menurut Dzulfadli, sebagian besar kayu yang terbawa arus saat bencana berasal dari kawasan Harangan atau Hutan Tapanuli yang berada di bagian hulu ketiga desa tersebut. Sungai Muara Sibuntuon dan Sungai Sosopan diketahui berhulu di kawasan hutan tersebut.

“Pada saat banjir bandang, Sungai Muara Sibuntuon dan Sungai Sosopan menghanyutkan puluhan ribu kubik kayu yang akhirnya bermuara di Desa Garoga dan wilayah sekitarnya,” jelasnya.

Ia juga meminta penyidik Mabes Polri menelusuri kawasan hulu sungai, khususnya hulu Sungai Muara Sibuntuon yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Utara dan hulu Sungai Sosopan yang berada di wilayah Tapanuli Selatan.

“Silakan cek langsung ke lapangan. Sampai sekarang masih banyak gelondongan kayu yang terdampar di sepanjang aliran kedua sungai tersebut,” imbuhnya.

Dzulfadli menekankan pentingnya penegakan hukum yang berbasis fakta lapangan dan investigasi menyeluruh untuk menemukan sumber sebenarnya dari puluhan ribu kayu gelondongan yang terbawa arus banjir.

Ia juga menyinggung adanya narasi yang berkembang di ruang publik yang dinilai menyesatkan.

“Terlihat ada penggiringan opini yang justru membodohi publik, seperti narasi chemtrail sebagai penyebab banjir bandang Garoga,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dzulfadli menegaskan kawasan kilometer 10 hingga kilometer 16 yang merupakan kawasan hutan negara harus menjadi fokus utama pemeriksaan.

“Jangan hanya melihat wilayah hilir. Kalau hanya dihitung dari bawah, dari mana asal puluhan ribu kayu yang terdampar di Sungai Garoga, kebun masyarakat, bahkan sampai ke Kota Sibolga?” pungkasnya. (red)

Editor : Editor Satu
#Banjir tapteng