TAPTENG, METRODAILY – Puluhan ribu meter kubik kayu gelondongan yang ditemukan mengalir di Sungai Aek Garoga, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), belakangan dituding berasal dari aktivitas PT Tri Bahtera Srikandi (PT TBS).
Tudingan tersebut dibantah keras oleh warga Desa Anggoli, Kecamatan Sibabangun, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (16/12/2025).
Warga menilai tudingan tersebut tidak berdasar dan meminta semua pihak melakukan pengecekan fakta secara menyeluruh di lapangan, mulai dari hulu hingga hilir daerah aliran sungai (DAS).
“Harus dikaji ulang dan dicek langsung dari hulu sampai ke hilir. Tidak masuk akal kayu gelondongan sebanyak puluhan ribu kubik itu berasal dari lahan PT TBS,” ujar salah seorang warga.
Masyarakat juga menolak jika dalam situasi bencana banjir bandang dan longsor, perusahaan justru dijadikan kambing hitam tanpa pembuktian yang objektif.
Warga Dusun III Desa Anggoli, Amalea Ndraha, menegaskan secara geografis aliran sungai dari kawasan perkebunan PT TBS tidak bermuara ke Sungai Aek Garoga.
Menurutnya, jika terjadi longsor di area PT TBS, material kayu justru akan terbawa ke Sungai Sibabangun.
“Kalau memang ada longsor, otomatis kayu hanyutnya ke Sungai Sibabangun, bukan ke Aek Garoga. Jadi jangan asal menuding, silakan cek langsung ke lapangan,” tegas Amalea.
Ia bahkan mempertanyakan logika tudingan tersebut. Menurutnya, mustahil kayu dari kawasan PT TBS bisa “melompat” ke bukit lain dan masuk ke Sungai Garoga.
“Kalau ada kayu di sana, apa mungkin kayu itu bisa menyeberang bukit dan masuk ke Sungai Garoga?” ujarnya.
Sementara itu, pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri diketahui tengah melakukan penyelidikan.
Hal ini ditandai dengan pemasangan spanduk bertuliskan “Dalam Proses Penyelidikan” di pintu masuk kawasan PT TBS.
Penyelidikan tersebut berdasarkan Surat Perintah Tugas Nomor SP.GAS/811/XII/RES.5.3./2025/TIPIDTER tertanggal 5 Desember 2025.
Pada Selasa (16/12/2025), sejumlah personel Bareskrim Polri terlihat mendatangi kawasan PT TBS dan lahan milik masyarakat dengan menggunakan kendaraan dinas berpelat merah asal Tapanuli Selatan serta dua unit sepeda motor.
Kedatangan tim tersebut diketahui untuk mengambil sampel kayu dan tanah yang akan diuji di laboratorium.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Anggoli, Oloan Pasaribu. Ia menilai sangat tidak masuk akal jika kayu gelondongan yang mengalir di Sungai Garoga berasal dari lahan PT TBS.
“Sebagian lahan masyarakat yang diplasmakan hanya sekitar 18 hektare. Itu pun dikelola perusahaan karena masyarakat tidak sanggup mengelola. Jadi sangat tidak masuk akal kalau kayu sebanyak itu berasal dari sana,” kata Oloan.
Oloan mengakui terdapat beberapa titik longsor di wilayah tersebut. Namun, menurutnya kawasan tersebut merupakan daerah mata air dengan kondisi topografi yang membuat material kayu mustahil terbawa hingga ke Sungai Garoga.
Ia juga mengungkapkan hasil pengecekan lapangan menggunakan drone dari area mata air hingga anak Sungai Aek Na Hombar. Dari pemantauan tersebut, ditemukan sekitar 10 titik longsor besar yang mayoritas berasal dari lahan masyarakat, bukan dari area kebun plasma PT TBS.
“Itu longsoran dari lahan masyarakat, tapi bukan dari atas sini,” ujarnya.
Oloan turut menyinggung video yang beredar di media sosial terkait peristiwa banjir bandang pada 25 November 2025.
Dalam video tersebut terlihat debit air sangat besar disertai kayu-kayu yang terbawa arus, khususnya dari Sungai Sosopan yang berasal dari wilayah Garonggang, Kabupaten Tapanuli Selatan, hingga melanda Desa Sibiobio, Tapanuli Tengah.
Baca Juga: Heboh! Geng Remaja Begal Motor di Perdagangan, Satu Korban Luka Parah
“Kalau ada yang menuding kayu itu dari kebun PT TBS, ya aneh saja. Penyelidikan harus dilakukan secara objektif dan menyeluruh,” katanya.
Ia menyarankan agar fokus penyelidikan diarahkan ke daerah aliran Sungai Garoga dari titik temuan kayu hingga ke hulu.
Menurutnya, sumber kayu gelondongan lebih masuk akal berasal dari DAS sisi kiri Sungai Garoga yang berada di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.
“Saya perkirakan kayu itu akibat longsor dan aktivitas lama di dataran rendah DAS. Jumlahnya bisa ratusan kubik. Artinya, kayu dari kawasan atas ini sama sekali tidak berpengaruh ke Sungai Anggoli atau Garoga,” pungkasnya. (Ztm)
Editor : Editor Satu