MADINA, METRODAILY — Bupati Mandailing Natal (Madina) Saipullah Nasution menempuh perjalanan selama sekitar empat jam menyusuri Sungai Parlampungan menggunakan perahu bermotor untuk mengunjungi wilayah terpencil Siulangaling, Kecamatan Muara Batang Gadis (MBG), Sabtu (13/12/2025).
Wilayah Siulangaling merupakan salah satu kawasan yang terdampak cukup parah akibat banjir pada November lalu.
Kawasan ini mencakup empat desa, yakni Hutarimbaru, Lubuk Kapundung I, Lubuk Kapundung II, dan Ranto Panjang, dengan kondisi akses transportasi yang masih sangat terbatas hingga kini.
Kunjungan Saipullah bersama rombongan bertujuan menyalurkan bantuan sekaligus memastikan kehadiran pemerintah daerah di wilayah yang selama ini terisolasi.
Desa Hutarimbaru menjadi lokasi pertama yang disambangi rombongan.
Kedatangan bupati disambut haru oleh warga. Anak-anak hingga orang tua tampak antusias menyambut saat perahu merapat ke dermaga sederhana desa.
Dari Hutarimbaru, rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Lubuk Kapundung I dan tiba bertepatan dengan waktu salat Ashar.
Usai melaksanakan salat berjemaah, Saipullah berdialog dengan warga dan menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan kehadiran pemerintah daerah pascabencana banjir.
“Maaf kami baru bisa hadir. Tiga hari setelah bencana kami sebenarnya sudah berada di Singkuang dan berencana ke sini, namun akses menuju lokasi belum memungkinkan dilalui,” ujar Saipullah di hadapan warga.
Ia menegaskan, Pemerintah Kabupaten Madina terus memantau kondisi masyarakat Siulangaling melalui laporan kecamatan dan pemerintah desa.
Permohonan maaf tersebut disambut baik warga, yang kemudian menyampaikan berbagai keluhan, mulai dari kondisi jembatan, keterbatasan akses jalan darat, sarana transportasi, hingga belum meratanya aliran listrik.
Tokoh masyarakat Siulangaling, Muaja, mengungkapkan bahwa keterbatasan infrastruktur membuat warga setempat belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan pembangunan.
Dari sekitar 2.500 kepala keluarga atau 8.000 hingga 10.000 jiwa yang mendiami kawasan tersebut, sekitar separuh warga belum pernah melihat kendaraan roda empat.
“Untuk bisa menginjak kendaraan roda empat saja, kami harus mengeluarkan biaya sekitar Rp800 ribu,” ungkap Muaja.
Menanggapi aspirasi tersebut, Saipullah menyampaikan bahwa kunjungannya juga bertujuan melakukan pendataan langsung kondisi infrastruktur serta survei ke sejumlah titik yang membutuhkan rehabilitasi dan pembangunan pascabencana.
Terkait kelistrikan, Saipullah mengungkapkan bahwa sebanyak 23 desa di Madina telah diusulkan ke Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) untuk mendapatkan layanan listrik tenaga surya.
“Seharusnya akhir tahun ini sudah mulai dikerjakan, namun pelaksanaannya tertunda akibat bencana,” jelasnya.
Sementara untuk pembukaan akses jalan darat, Pemkab Madina terus mengajukan permohonan kepada pemerintah pusat.
Saipullah menyebut pihaknya baru menerima surat dari Kementerian Kehutanan terkait pengajuan pinjam pakai kawasan hutan guna membuka akses jalan dari Nagajuang menuju Siulangaling.
“Kami diminta segera mengajukan proposal sebagai syarat pembangunan akses jalan tersebut,” pungkasnya. (Ant)
Editor : Editor Satu