Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Semiloka KAHMI, Bukukan Sejarah Pergerakan Mahasiswa di Padangsidimpuan

SAMMAN • Senin, 15 Desember 2025 | 11:30 WIB
Buya Mas
Buya Mas

SIDIMPUAN, METRODAILY - Seminar dan Lokakarya Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi) Kota Padangsidimpuan, Sabtu (13/12/2025) di Hotel Mutiara Padangsidimpuan akan menggali sejarah pergerakan HMI dan kemudian menerbitkannya dalam bentuk buku.

Dalam semiloka ini, Mas’oed Abidin Jabbar, ketua umum pertama HMI Padangsidimpuan hadir memberikan perspektif dan pengalaman yang berarti tentang nuansa pergerakan mahasiswa Islam di era orde lama.

Buya Mas’oed yang sekarang menetap di Kota Padang, merupakan ulama yang aktif di Majelis Ulama Indonesia wilayah Sumatra Barat.

HMI Cabang Padangsidimpuan pertama kali diresmikan dalam Kongres Nasional pada tahun 1962.

Dan kala itu, seperti Pelajar Islam Indonesia (PII), HMI kerap harus bertentangan dengan dominasi organisasi bawah tanah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang digdaya pada saat kepemimpinan presiden Soekarno.

“Sampai saat ini, saya masih bertanya-tanya kenapa harus begini (pendirian cabang secara Istimewa). Jawaban pribadi saya, mungkin saja ini suatu penghormatan kepada kakanda Lafran Pane. Karena di sini kampung kelahiran kakanda Lafran,” jelas Buya Mas’oed.

Buya Mas’oed pun berpesan, agar segenap kader tetap berpegang dan melaksanakan pesan Lafran Pane. Yakni, mempertahankan dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam.

“Berpengalaman dalam organisasi HMI, adalah bersejarah. Karena itu, jangan salah, secara ilmiah, menghancurkan suatu bangsa itu dengan hapus sejarahnya. Kalau sudah hilang sejarah, maka tidak ada lagi regenerasi,” jelasnya.

Ketua MD Kahmi Padangsidimpuan, Pertama Yul Asmara Pane, menerangkan, refleksi yang dilaksanakan ini pun tujuannya agar semua kegiatan dari tahun 1962 hingga periode saat ini dapat terdokumentasi kembali.

“Tim editor akan menuangkan data dari abang-abang dan kakak, agar disusun dalam buku berjudul ‘HMI Tariada di Tanah Kelahiran Lafran Pane’,” ungkapnya.

Menurut laporan panitia Marakali Harahap, Kahmi telah menghubungi kembali ketua-ketua umum HMI Padangsidimpuan sejak tahun 1962 hingga periode saat ini.

Dan yang dapat didata bahkan sudah mencapai 50 persen dari kader HMI sejak tahun-tahun awal.

Ketua MW Kahmi Sumatra Utara yang diwakili Khoiruddin Nasution menyambut baik, dengan rencana penyusunan buku ini.

Sebagai mantan ketua MD Kahmi Padangsidimpuan, ia pun berpesan agar Yayasan Bina Insani yang menaungi Gedung Bina Insani sebagai markas Kahmi dan HMI Padangsidimpuan agar segera direstrukturisasi.

“Yayasan Bina Insani pengurusnya sekarang tinggal saya dengan Bang Jusar Nasution. Dan yayasan ini penting, sebagai lembaga yang mendirikan markas bagi organisasi, termasuk nanti pada perawatannya juga dengan sejarahnya di sana. Dan ini yang ketiga di Indonesia selain Graha Insan Cita di Jakarta dan Jogjakarta,” ungkap doktor bidang politik itu saat membuka lokakarya.

Semiloka yang dihadiri sejumlah mantan ketua dan pengurus HMI Padangsidimpuan ini, ditutup dengan sumbangan sejumlah buku tulisan Buya Mas’oed Abidin. Salah satunya berjudul; Halakah Surau. (SAN)

Editor : Editor Satu
#kahmi #hmi #lafran pane