METRODAILY - Di balik kesedihan yang menyelimuti para penyintas banjir bandang dan longsor di Tapanuli Tengah, sebuah kabar bahagia lahir diam-diam di sudut pengungsian.
Pada Selasa malam, 9 Desember 2025, seorang bayi perempuan membuka mata untuk pertama kalinya di Kelurahan Albion Prancis, Kecamatan Pinangsori. Tangisnya membelah udara yang selama dua minggu terakhir penuh dengan kecemasan.
Bayi itu adalah anak kedua pasangan Sukurman dan Italina. Keduanya mengungsi sejak awal bencana menghantam wilayah mereka. Di tenda darurat beralas terpal, dengan pencahayaan seadanya, Italina melahirkan tanpa keluhan.
Baca Juga: Tambang Ilegal Beroperasi di Kebun PTPN IV Balimbingan, Polisi Lakukan Penggerebekan
Namun jejak letihnya jelas terlihat ketika relawan Gerakan Anak Negeri, Hazairin Sitepu, datang menjenguk.
Hazairin tiba di pengungsian beberapa jam setelah kabar kelahiran tersebar. Ia berjalan menyusuri lorong-lorong tenda sebelum akhirnya bertemu Italina yang masih berbaring, bayinya terbungkus kain tipis di sisinya.
Suasana haru menyergap. Para penyintas yang lain berdiri mengelilingi, menyaksikan satu-satunya kisah kelahiran yang terjadi sejak bencana melanda.
“Sehat selalu ya. Sudah berapa lama di pengungsian? Memang sudah waktunya melahirkan?” tanya Hazairin dengan suara pelan, menenangkan.
Baca Juga: Banjir Serbelawan Dipicu Sampah dan Sisa Replanting Kayu Perkebunan
Italina menatapnya sambil tersenyum tipis. “Iya, sudah dua minggu di sini. Memang waktu mengungsi sudah hamil besar,” ujarnya. Ia mengaku belum sempat memberi nama untuk anaknya—di tengah situasi yang membuat semua orang berjuang sekadar bertahan.
Hazairin kemudian memberikan doa dan penguatan, mengingatkan Italina untuk tetap menjaga kesehatan diri dan bayinya. “Sehat-sehat ya. Kami Gerakan Anak Negeri datang dari Bogor, dan kami akan bantu semampunya,” ucapnya.
Tak jauh dari tenda, Hazairin mendatangi suami Italina, Sukurman, yang duduk memandangi langit mendung. Suaranya lirih saat bercerita.
Baca Juga: Pemko Siantar Matangkan Acara Old and New 2025/2026, Ada Pasar Murah
“Ini anak kedua. Sedih kalau ditanya rasanya. Cuma tangisan yang ada,” katanya—sebuah kalimat yang mencitrakan betapa berat situasi itu bagi seorang ayah.
Namun Hazairin menepuk bahunya. “Tapi syukur ya, anaknya sehat, ibunya sehat, dan bapaknya tangguh.”
Di tengah bencana yang merenggut rumah, harta benda, dan rasa aman, kelahiran bayi itu menjadi titik cahaya. Secercah harapan yang mengingatkan para penyintas bahwa kehidupan tetap berjalan, bahkan ketika tanah masih basah oleh air bah dan reruntuhan. (net)