TAPUT, METRODAILY – Dampak banjir bandang dan longsor masih terasa di Tapanuli Utara (Taput), Sumatra Utara. Sejumlah desa di tiga kecamatan, yakni Pematang Bandar, Parmonangan, dan Adian Koting, masih terisolasi, sehingga akses bantuan dan mobilisasi warga terbatas.
Wakil Bupati Tapanuli Utara mengungkapkan, desa-desa yang terdampak parah antara lain Hutajulu Balik (Parmonangan), Pardomuan Nauli (Pematang Bandar), Siantarnapospos (Adian Koting), serta Dusun Simarsalaon di Desa Pertengahan Parmonangan.
“Desa-desa ini masih sulit dijangkau karena material longsor menutup akses jalan utama,” katanya melalui pesan singkat, Rabu (10/12/2025).
Baca Juga: Bakhtiar Kunjungi Warga Sibabangun: Kecintaan Saya Sama Tapteng Takkan Berubah!
Sementara itu, desa yang parah terdampak namun sudah bisa dilintasi kendaraan adalah Pulogodang dan Panggugunan. Bantuan dari pemerintah dan donator terus mengalir ke posko pengungsian untuk meringankan beban warga.
Kepala Desa Panggugunan, Trinding Naepos, mengatakan lima warganya meninggal dunia akibat banjir dan longsor.
Lima orang lainnya masih dirawat di rumah sakit, sementara 42 kepala keluarga (sekitar 120 jiwa) memilih mengungsi. “Warga trauma. Siang hari kembali ke rumah, malam hari tetap ke pengungsian,” ujarnya.
Baca Juga: Bakhtiar Kunjungi Warga Sibabangun: Kecintaan Saya Sama Tapteng Takkan Berubah!
Di Desa Pulogodang, Kepala Desa Marator Simanulang mencatat 200 kepala keluarga atau sekitar 600 jiwa terdampak. Ia meminta pemerintah segera melakukan pembersihan material longsor.
“Pemulihan lokasi sangat dibutuhkan. Saat hujan deras, warga masih merasa takut dan rawan longsor,” katanya.
Kondisi ini menegaskan bahwa pemulihan pasca bencana di Taput masih menghadapi tantangan besar. Akses yang terbatas dan risiko longsor membuat penyaluran bantuan menjadi prioritas utama bagi pemerintah daerah. (net)
Editor : Editor Satu