TAPSEL, METRODAILY — Tim SAR gabungan yang telah hampir dua pekan menyisir jalur banjir bandang dan longsor di Kabupaten Tapanuli Selatan kembali menemukan temuan yang mengejutkan: dua jenazah masih dalam balutan kain kafan di aliran Sungai Garoga dan wilayah sekitarnya.
Temuan itu disampaikan relawan SAR, Decky Chandrawan, yang terlibat penuh bersama Basarnas dalam pencarian korban.
“Sudah dua mayat dalam kain kafan yang tim kami temukan, Bang,” ujarnya kepada ANTARA, Senin (8/12).
Decky, Ketua Dewan Pendiri KPA Forester Tabagsel, menjelaskan kedua jenazah ditemukan di lokasi berbeda.
- Jenazah pertama ditemukan 29 November dalam kondisi utuh di area kebun kelapa sawit Janji Maria, tepat di jalur banjir bandang dari Sungai Garoga.
- Jenazah kedua ditemukan 7 Desember, sekitar satu kilometer dari bibir sungai, terdampar di persawahan dalam kondisi tidak utuh.
“Kami nggak tahu pasti asalnya dari mana. Apa dari Tapsel atau sudah masuk Tapteng, masih simpang siur,” tambahnya.
Ia menduga salah satu jenazah “belum lama dikuburkan” sebelum terseret arus banjir.
Seluruh jenazah yang ditemukan langsung dibawa ke puskesmas terdekat untuk identifikasi dan penanganan lebih lanjut.
“Soal dimakamkan lagi atau tidak, kami nggak tahu. Tugas kami hanya memastikan jenazah sampai ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Evakuasi Berat: Lumpur Setinggi Lutut, Senter Hampir Habis
Decky mengisahkan beratnya proses evakuasi, terutama di Desa Pardamean—lokasi terjauh dari jalur banjir. Lumpur setinggi lutut menutup seluruh akses.
“Korban kami gotong pakai tandu, menembus material banjir. Sampai di perkebunan sawit baru bisa dipindahkan ke perahu karet,” kenangnya.
Evakuasi dilakukan dalam kondisi minim personel karena hanya Basarnas dan FAJI Tapsel yang dapat bergerak cepat hari itu. Tiga jenazah harus dievakuasi dalam satu hari yang sama.
“Selesai jam sembilan malam. Kami kerja dalam gelap, senter hampir habis, lumpur makin berat,” kata Decky.
Meski telah menangani puluhan jenazah sejak bencana 24 November lalu, Decky mengaku menemukan jenazah yang masih berkafan membawa perasaan lain.
“Ada sunyi yang menggantung di tengah hiruk pikuk bencana,” ucapnya lirih.
Bagi tim SAR, setiap jenazah bukan sekadar angka, melainkan seseorang yang ditunggu keluarganya dan harus diperlakukan dengan hormat.
Evakuasi korban masih terus berlanjut. Sungai Garoga belum sepenuhnya bersih dari material banjir bandang, sementara potensi longsor susulan tetap mengancam.
“Selama masih ada korban yang belum ditemukan, kami tetap turun,” tegas Decky. (ant)
Editor : Editor Satu