MEDAN, METRODAILY – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara merilis data terbaru dampak bencana hidrometeorologi yang melanda 18 kabupaten/kota.
Hingga Minggu, 7 Desember 2025 pukul 17.00 WIB, tercatat 1.578.014 jiwa terdampak, dengan 10.902 kepala keluarga mengungsi, serta 650 warga luka-luka, 330 meninggal dunia, dan 136 masih hilang.
Bencana banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yang terjadi sejak akhir November 2025 paling banyak memukul wilayah Tapanuli Tengah, Langkat, Deli Serdang, dan Tapanuli Selatan.
Wilayah dengan Dampak Terbesar
- Tapanuli Tengah menjadi daerah dengan jumlah terdampak tertinggi, yaitu 296.453 jiwa dengan 18.331 jiwa mengungsi, serta 524 luka, 102 meninggal, dan 91 hilang.
- Langkat mencatat 289.432 jiwa terdampak dan 11.054 jiwa mengungsi, serta 11 warga meninggal.
- Deli Serdang mencatat 313.397 jiwa terdampak, 230 mengungsi, dan 17 meninggal.
- Tapanuli Selatan terdampak 279.974 jiwa, dengan 7.248 mengungsi, 69 luka, 85 meninggal, dan 31 hilang.
Sementara itu, Sibolga, Humbang Hasundutan, Medan, dan Serdang Bedagai juga mengalami dampak signifikan dari banjir dan longsor yang tersebar di beberapa titik.
Beberapa daerah seperti Padangsidimpuan, Binjai, Nias, Tebing Tinggi, Asahan, dan Batubara dilaporkan telah menyelesaikan masa tanggap darurat karena warga pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing.
Status Tanggap Darurat
Hingga pembaruan terakhir, mayoritas wilayah telah menetapkan Status Tanggap Darurat, termasuk Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, Humbang Hasundutan, Pakpak Bharat, Mandailing Natal, Medan, Binjai, Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Nias Selatan.
BPBD Sumut memastikan koordinasi terus diperkuat dengan pemerintah kabupaten/kota, TNI/Polri, serta lembaga kemanusiaan untuk percepatan evakuasi, distribusi logistik, dan penanggulangan bencana secara menyeluruh. (Rel/mea)