SAMOSIR, METRODAILY – Fenomena ikan bermatian kembali terjadi di Danau Toba, tepatnya di Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Jumat (29/11).
Peristiwa serupa sebelumnya sempat terjadi pada Mei 2025. Kali ini, ikan mati ditemukan di dua titik: Desa Tanjung Bunga dan Kelurahan Pintusona. Sejak pagi, air Danau Toba tampak keruh dan dipenuhi bangkai ikan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Samosir, Edison Pasaribu, yang turun langsung ke lokasi mengatakan, kematian ikan kali ini dipicu oleh penurunan drastis kadar oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) di perairan sekitar lokasi.
“Masyarakat sudah melihat tanda-tanda kematian ikan sejak Kamis (27/11). Sudah ada laporan awal karena warga melihat banyak ikan yang pingsan, kemudian mati,” ujarnya.
Laporan pertama datang dari pemilik Keramba Jaring Apung (KJA) yang melihat ikan peliharaan mereka megap-megap di permukaan air—tanda kekurangan oksigen. Total sekitar 5 ton ikan dilaporkan mati mendadak.
Dinas Lingkungan Hidup bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Samosir telah melakukan pengujian kualitas air di dua titik tersebut.
“Tim sudah turun Kamis lalu untuk mengukur pH, suhu, dan DO air danau,” ujar Edison.
Hasilnya, pH air masih normal di kisaran 6–6,9, suhu stabil di 28°C, namun kadar oksigen terlarut justru berada pada level kritis, hanya 1 mg/L.
“Standar DO yang sehat untuk ikan berada di angka 5–8 mg/L. Jika DO turun di bawah 2 mg/L, ikan sangat rentan mati,” jelasnya.
Dijelaskan Edison, penurunan DO di lokasi tersebut mengindikasikan tekanan ekologis yang berat.
“Kemungkinan dipicu perubahan cuaca, stratifikasi air, pembusukan bahan organik, serta tingginya intensitas budidaya ikan,” tambahnya.
Hingga Jumat sore, tim gabungan dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, dan Satgas Ponton Kodim 0210/TU masih melakukan pembersihan bangkai ikan dari danau.
Sedikitnya lima truk canter berisi ikan mati sudah dievakuasi. (Net)
Editor : Editor Satu