Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Banjir Batangtoru Hapus Desa Garoga, Banyak Warga masih Hilang

SAMMAN • Sabtu, 29 November 2025 | 22:19 WIB
Penyintas menyeberangi sisa banjir di antara sisa bangunan masjid pinggir sungai Aek Garoga, Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sabtu (29/11/2025). (Samman/MetroDaily)
Penyintas menyeberangi sisa banjir di antara sisa bangunan masjid pinggir sungai Aek Garoga, Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sabtu (29/11/2025). (Samman/MetroDaily)

TAPSEL, METRODAILY-Sebagian besar Desa Garoga, Kecamatan Batangtoru telah terhapus, digusur banjir besar sungai Aek Garoga pada Selasa (25/11/2025) siang lalu.

Banyak penduduknya yang masih hilang, hingga hari ini, Sabtu (29/11/2025).

Luas Desa Garoga 995.000 m2. Berada di pinggiran jalan lintas sumatra, memanjang satu kilometer dari batas Desa Hutagodang, sampai batas Kabupaten Tapanuli Tengah, di Desa Anggoli, Kecamatan Sipabangun.

Di antara desa ini juga mengalir sungai Aek Garoga, penanda alam batas Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah.

Sungai Aek Garoga membagi dua aliran yang membentuk pulau sepanjang 1.170 meter. Di pulau ini setengah dari sekitar 270 kepala keluarga penduduk Garoga bermukim, berkebun dan bersawah. Pulau ini juga menjadi perantara dua jembatan; Garoga dan Anggoli.

Pada Selasa pagi yang menyimpan trauma itu. Sekitar pukul 03.00 WIB, air telah naik ke permukiman.

Namun masih kecil, sebentar lalu surut. Begitu juga pada pukul 06.00 WIB. Sebagian warga yang khawatir mulai mengungsi, di tengah hujan deras. Berpencar, mencari dataran yang lebih tinggi.

“Saat itu menyelamatkan diri dan keluarga masing-masing. Nunggu kawan entah ke mana arahnya. Saya lari ke hutan. Belakang rumahku agak bukit (tinggi) sedikit. Saya lihat kawan masih ada terjebak di dalam rumah, nggak tahu datang air itu,” cerita Sukrianto (51), warga Garoga yang selamat.

Pukul 11.00 Wib, banjir besar datang dengan membawa banyak material kayu. Banyak warga yang masih bertahan di rumah, atau mengungsi ke jembatan Garoga dan ke arah perbukitan.

Air sungai itu tiba-tiba seperti tsunami, meluas, bergelombang dan menyapu apa pun yang dilaluinya.

Rumah-rumah penduduk di pulau yang dikitari sungai Garoga pun lenyap disapu banjir. Membentuk aliran sungai baru. Terkikis habis oleh air.

Sementara jembatan Anggoli telah dipenuhi kayu-kayu besar yang menumpuk, dan tersendat. Di jembatan Garoga banyak warga bertahan, menahan dingin dan pasrah.

“Karena jembatan itulah dirasa yang paling dekat, dan tinggi. Makanya sebagian ada yang ke situ, saat air sudah besar. Nggak sempat lagi ke mana-mana,” terang Sukrianto.

Di jembatan, ternyata tidak aman. Pepohonan di dekatnya tumbang tercerabut oleh derasnya aliran air. Menyapu banyak warga yang berada di antara bibir jembatan. Hanyut.

“Saya lihat kawan hanyut. Tapi bagaimana dalam kondisi panik, saya juga nggak bisa menyelamatkannya,” kilas ayah 3 anak ini, yang juga kehilangan istri tercintanya.

Empat jam kemudian air mulai sedikit surut. Warga yang bertahan di bukit, menelusuri hutan ke desa tetangga di Desa Aek Ngadol, desa terakhir yang terdampak di pinggiran jalan lintas sumatra. Berjarak kurang lebih 1.3 kilometer.

Istri Sukrianto hanyut entah ke mana. Saat siang maut itu, mereka terpisah. Ia mengira istrinya mengikuti ia dan anak-anaknya ke arah bukit di belakang rumah.

Namun, hingga hari ini tidak ada kabar. Sukrinto masih terus mencari jasad keluarganya. Sesekali ia mengunjungi sisa rumahnya. Yang telah terbalut pepasir, batang pohon dan serabut akar.

Sukrianto tak berharap banyak. Meski pun harta hanya tinggal pakaian di badan. Ia menginginkan seluruh penyintas seperti dirinya, jangan lagi kelaparan.

“Pencarian keluarga kami terus dilakukan. Kalau jangka panjangnya. Kami ingin tempat tinggal kami, dibantu pemerintah,” harapnya.

Mayat Terus Berdatangan, Sulit Diidentifikasi

Jenazah korban banjir terus berdatangan ke Puskesmas Batangtoru. Hari ini, Sabtu (29/11/202/) pukul 21.00 Wib. Ada 8 jenazah yang datang.

Banyak di antaranya ditemukan di tumpukan batang-batang sisa banjir. Di desa Huta Raja, Kecamatan Muara Batangtoru.

Seorang perantau asal Garoga mencari ayahnya, memeriksa ciri-ciri setiap jenazah laki-laki, Sabtu (29/11/2025) di Puskesmas Batangtoru, Tapsel. (Samman/MetroDaily)
Seorang perantau asal Garoga mencari ayahnya, memeriksa ciri-ciri setiap jenazah laki-laki, Sabtu (29/11/2025) di Puskesmas Batangtoru, Tapsel. (Samman/MetroDaily)

Total keseluruhan, ada 40 jenazah yang telah ditemukan. Namun, kondisinya sudah membusuk, dan beberapa di antaranya sebagian anggota tubuh telah hilang. Saat ini, ada 7 jenazah yang masih berada di Puskesmas Batangtoru.

“Kondisinya mulai sesak. Dan tidak ada keluarga. Baiknya memang segera dimakamkan saja,” Kepala Puskesmas Batangtoru Delida H Batubara.

Di sisi lain. Seorang remaja asal Garoga, Adjie Siregar masih resah menunggu dan memeriksa setiap jenazah masuk ke Puskesmas. Ia salah satu penyintas yang mencari ibunya Tiarma Sitompul (48).

Jenazah yang terakhir masuk malam ini merupakan perempuan. Diduga berusia antara 40—50 tahun. Kondisinya membusuk. Bersarung tangan, dan sebelah kakinya telah hilang. Adjie, sudah memastikan. Namun itu bukan ibunya.

“Tapi saya kayak kenal. Ibu saya masih hilang bang,” ucapnya, parau.

Adjie seperti Sukrianto. Berpisah dengan keluarga saat banji

Banjir sungai Aek Garoga menyapu beberapa desa. Di antaranya Desa Garoga, Huta Godang, dan Desa Aek Ngadol. Desa-desa ini berada di sisi sungai Aek Garoga. Memanjang mengiringi jalinsum sepanjang 2.3 kilometer. (SAN)

Editor : Editor Satu
#banjir bandang #Banjir Tapsel #siklon