Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Akses Terputus Hambat Bantuan, Polda Sumut Berjibaku Cari Korban

Editor Satu • Jumat, 28 November 2025 | 18:21 WIB

 

 

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan.

TAPUT, METRODAILY – Gelombang bencana besar yang melanda Sumatera Utara selama sepekan terakhir menyisakan duka mendalam dan tantangan berat bagi seluruh tim penyelamat.

Hingga Jumat (28/11/2025), sebanyak 367 titik bencana terdata di wilayah hukum 20 Polres, dengan 222 warga menjadi korban, termasuk 62 meninggal dunia, puluhan luka-luka, dan 65 orang masih hilang.

Sejumlah titik terparah, khususnya di Sibolga dan Tapanuli Tengah, hingga kini masih terisolasi total akibat longsor yang menutup akses utama. Kondisi ini membuat penyaluran bantuan serta mobilisasi personel penyelamat berjalan sangat lambat.

Di Posko Terpadu Kontingensi Penanggulangan Bencana Alam Wilayah Tapanuli Utara, Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Ferry Walintukan menggambarkan situasi lapangan yang semakin mengkhawatirkan.

Ia menegaskan bahwa Sibolga menjadi daerah dengan jumlah korban meninggal terbanyak, yakni mencapai 33 orang.

“Yang terbanyak meninggal ada di daerah Sibolga, kurang lebih jumlahnya 33 orang,” ujar Ferry. Banyaknya korban jiwa dan hilang membuat pencarian menjadi prioritas utama seluruh tim SAR gabungan.

Mewakili jajaran Polda Sumut, Ferry menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh keluarga korban.

“Kami turut berduka cita dan tetap melakukan upaya maksimal untuk evakuasi korban-korban di sana,” tuturnya.

Namun, semangat kemanusiaan tersebut berbenturan dengan kendala terbesar: akses menuju lokasi terparah yang masih terputus total. Longsor hebat membuat bantuan fisik tertahan di jalur menuju Sibolga.

“Kami berusaha untuk bisa tembus ke Sibolga. Bantuan sudah kami siapkan, namun tertahan di daerah longsor menuju lokasi,” jelasnya.

Meski akses jalan tertutup, operasi penyelamatan tidak pernah berhenti. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Brimob, Polres jajaran, Basarnas, TNI, BPBD, relawan, serta warga lokal menyisir sungai, lereng bukit, dan permukiman yang tertimbun material longsor.

Perahu karet, alat berat, hingga jalur alternatif perkampungan digunakan untuk menjangkau titik-titik terpencil yang tidak dapat dilewati kendaraan.

Setiap proses evakuasi berlangsung penuh haru—keluarga korban menunggu di tepi jalan berlumpur, berharap ada kabar baik dari tim penyelamat.

Medan ekstrem, cuaca yang tidak menentu, arus sungai deras, hingga ancaman longsor susulan tidak menyurutkan semangat personel. Komunikasi darurat tetap dijaga dengan perangkat tambahan, sementara jalur logistik dicari melalui berbagai rute alternatif.

Di tengah keterbatasan, tekad Polda Sumut tetap teguh: pencarian tidak akan dihentikan sebelum seluruh korban ditemukan dan bantuan benar-benar sampai ke warga terdampak.

Semangat gotong royong, solidaritas, dan kemanusiaan menjadi kekuatan utama yang menggerakkan ratusan personel untuk terus berjibaku di tengah duka yang belum mereda. (Rel/sya)

Editor : Editor Satu
#longsor #polda sumut #bencana alam