Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Dihantam Banjir dan Longsor, Tapteng Porak Poranda dan Masih Lumpuh Total

Leo Sihotang • Jumat, 28 November 2025 | 10:13 WIB
Kondisi banjir yang merendam rumah warga Tapanuli Tengah.
Kondisi banjir yang merendam rumah warga Tapanuli Tengah.

TAPTENG, METRODAILY- Hujan yang turun dengan intensitas tinggi kurun waktu satu Minggu terakhir, telah memporak porandakan wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).

Update hingga Kamis, 27 November 2025, pukul 13.00 WIB, longsor terjadi di Kecamatan Badiri, Sibabangun, Lumut, Sarudik, Kolang, Tapian Nauli, Sitahuis, Pinangsori, dan Pandan. Banjir bandang hingga merendam dan merobohkan rumah penduduk terjadi di seluruh wilayah Tapteng.

Bencana alam yang menimpa juga menimbulkan korban jiwa, data sementara yang berhasil dihimpun korban meninggal dunia 11 orang, luka-luka 3 orang. Korban hilang mencapai ratusan orang.

Selain tertimbun longsor, korban meninggal dan hilang akibat terseret arus sungai. Diperkirakan, banyak korban hanyut dari Desa Sibiobio dan Muara Sibuntuon, Kecamatan Sibabangun.

Pasalnya, pemukiman warga kedua desa berada di pinggir sungai luluh lantak di hantam arus sungai. Tidak hanya itu, kantor kepala desa, Pustu, sekolah dasar juga roboh diterjang air.

"Dua warga saya meninggal tertimpa longsor. Sementara sembilan lainnya hilang terbawa arus sungai," ujar Kepala Desa Sibiobio, Damianus Zendrato, Kamis (27/11/2025).

Tapteng semakin terisolir dengan putusnya arus transportasi dengan kabupaten luar. Dibeberapa titik Jalan Nasional Sibolga - Padang Sidempuan amblas hingga mencapai kedalaman dua meter.

Sementara jembatan Anggoli yang menjadi batas wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah dengan Tapanuli Selatan, putus dihantam arus sungai dan kayu yang hanyut. Sama dengan jembatan Pandan yang juga terputus dihantam arus dan kayu yang hanyut.

Setali tiga uang, jalan Nasional Sibolga - Tarutung juga tidak bisa dilintasi. Amblas, retak, dan badan jalan tertimbun material longsor terjadi pada pukuhan titik.

Tidak hanya antar kabupaten dan kecamatan, arus transportasi antar desa juga banyak yang terputus. Belasan hingga puluhan jembatan roboh diterjang banjir. Fasilitas pemerintah seperti kantor dan sekolah juga banyak yang hancur.

Beberapa desa yang saat ini terkonfirmasi terisolasi yakni, Desa Pagaran Honas Kecamatan Badiri, Desa Sibiobio, Desa Muara Sibuntuon dan Desa Hutagurgur, Kecamatan Sibabangun, serta Desa Lumut Maju dan Lumut Nauli Kecamatan Lumut

Tapteng semakin gelap dan berantakan dengan matinya listrik pada tiga hari terakhir. Informasi yang didapat, padamnya listrik akibat banyaknya tiang milik PLN yang tumbang.

Koordinasi antara stakeholder terkait juga tidak bisa dilakukan. Disamping jalur transportasi darat yang terputus, hilangnya jaringan internet membuat koordinasi tidak dapat dilakukan.

Warga terdampak banjir dan longsor hanya mengambil inisiatif tanpa ada komando dari pemerintahan setempat.

Salah satunya di Kecamatan Sibabangun, Ratusan warga Desa Simanosor, Desa Hutagurgur, dan Desa Anggoli mengungsi ke Kantor Kecamatan Sibabangun.

Warga sekitar kompleks kantor kecamatan membantu pengungsi dan menempatkannya di aula pertemuan kecamatan dan rumah dinas camat.

Di beberapa wilayah lainnya, warga terdampak mengungsi ke rumah-rumah penduduk yang lebih aman.

Didapat informasi, Pemkab Tapteng dan pihak BASARNAS Sibolga masih berkutat mengatasi banjir dan longsor di Kecaman Sarudik dan Kota Pandan, yang menjadi ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah. Ratusan pengungsi ditempatkan di GOR Pandan.

Terancam Kelaparan

Putusnya jalur tranportasi darat membuat wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah terisolir. Kondisi ini membuat diatribusi kebutuhan pokok menjadi terganggu.

Pantauan pada Kamis pagi 27 November 2025, warga menyerbu kedai maupun toko-toko sembako untuk mendapatkan bahan pangan. Banyak warga yang terpaksa gigit jari karena persediaan tidak mencukupi permintaan warga.

Matinya aliran listrik menambah derita warga. Gelap hingga tidak bisa melaksanakan aktivitas rumah tangga, menjadi masalah baru yang ikut memperkeruh suasana.

Diperkirakan dalam tiga hari ke depan, jika bantuan tidak segera datang, banyak warga akan menderita kelaparan, akibat tidak adanya bahan pangan yang bisa dimasak. (zatam)

Editor : Leo Sihotang
#longsor #Siklon Senyar #Banjir tapteng #hujan ekstrem #cuaca ekstrem