Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

BPS Siantar Uraikan Perbedaan Data vs Statistik, dan Sosialisasikan SE 2026

Editor Satu • Kamis, 27 November 2025 | 13:18 WIB
Foto bersama BPS Kota Pematangsiantar dan jajaran Metro Siantar usai sosialisasi Literasi Statistik dan Sensus Ekonomi 2026.
Foto bersama BPS Kota Pematangsiantar dan jajaran Metro Siantar usai sosialisasi Literasi Statistik dan Sensus Ekonomi 2026.

SIANTAR, METRODAILY – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pematangsiantar menegaskan pentingnya memahami perbedaan antara data mentah dan statistik resmi dalam industri media.

Penegasan ini disampaikan pada sosialisasi Literasi Statistik dan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) yang digelar di Kantor Harian Metro Siantar, Komplek Megaland, Rabu (26/11).

Kepala BPS Kota Pematangsiantar, Ratnauli Naibaho, SE, M.Si, mengatakan bahwa perbedaan antara keduanya sangat krusial. Banyak misinformasi terjadi karena media atau publik menggunakan data mentah tanpa metodologi, sehingga memicu kesimpulan keliru.

“Data belum tentu statistik. Statistik adalah data yang sudah diolah dengan metodologi ilmiah sehingga valid dan dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Ratnauli.

Ia menjelaskan, BPS sebagai penyedia statistik resmi negara memiliki standar ketat, termasuk metode pengumpulan, verifikasi, dan pengolahan data. Karena itu, ia meminta media berhati-hati mengutip sumber data yang tidak melalui proses statistik yang benar.

BPS Sediakan Berbagai Kanal Data Resmi

Dalam pertemuan tersebut, BPS juga memperkenalkan berbagai kanal data resmi yang dapat digunakan media dan publik, antara lain:

“Informasi resmi BPS harus dapat dijangkau publik dengan mudah. Kami menyediakan berbagai kanal agar masyarakat tidak salah mengambil data,” kata Ratnauli.

Media Diingatkan: Salah Tafsir Angka Bisa Picu Misinformasi

Materi literasi statistik disampaikan oleh Nova Puspita, yang menekankan risiko besar jika wartawan atau analis salah membaca angka.

“Wartawan berhadapan dengan angka setiap hari. Tanpa literasi statistik, bisa muncul bias konfirmasi, salah tafsir grafik, atau penggunaan data yang tidak valid,” jelasnya.

Menurutnya, kemampuan membaca statistik sangat menentukan kualitas berita, termasuk dalam isu ekonomi, kemiskinan, inflasi, dan survei sosial.

SE2026: Potret Ekonomi Nasional

Dalam kesempatan itu, BPS juga menyampaikan bahwa Sensus Ekonomi 2026 akan berlangsung 1 Mei–31 Juli 2026 untuk memotret seluruh kegiatan ekonomi non-pertanian di Indonesia. Hasilnya akan menjadi dasar kebijakan transformasi ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.

Direktur Utama Metro Siantar Dame Ambarita menyambut baik sosialisasi ini dan menegaskan bahwa redaksi membutuhkan pemahaman statistik untuk meningkatkan akurasi pemberitaan.

“Kami sangat terbantu dengan penjelasan mengenai kanal data resmi dan cara membaca statistik. Ini sangat penting agar media tidak salah menyampaikan angka,” ujar Dame.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab serta penyerahan cenderamata dari BPS kepada Metro Siantar. (Rel/awa)

Editor : Editor Satu
#BPS Pematangsiantar #misinformasi