METRODAILY — Indonesia kembali mencatat fenomena meteorologi langka. Siklon Senyar, sistem badai yang terbentuk di Teluk Benggala dan melintasi Selat Malaka, menjadi siklon pertama yang mencapai daratan Indonesia sejak Siklon Vamei pada 2001.
Siklon ini kini bergerak melewati wilayah utara Sumatra dan membawa dampak signifikan berupa hujan ekstrem, angin kencang, banjir lokal, hingga potensi longsor.
Nama dari UEA, Lahir di Teluk Benggala
Siklon Senyar—nama yang berarti “Singa” dan diberikan oleh otoritas meteorologi Uni Emirat Arab—teridentifikasi sebagai Depresi BOB 09.
Sejumlah lembaga meteorologi internasional memantau sistem ini sebagai calon siklon sejak mulai berkembang di Teluk Benggala.
Wilayah Sumatra memang tidak berada dalam jalur utama siklon tropis, sehingga kemunculannya tergolong anomali.
Angin 85 km/jam, Kini Melemah
Pada Rabu (26/11/2025) pukul 08.00 WIB, kecepatan angin inti Senyar tercatat mencapai 85 km/jam. Memasuki daratan Sumatra, sistem ini melemah menjadi sekitar 65 km/jam, namun masih membawa curah hujan yang sangat tinggi.
Saat memasuki perairan dekat pantai Sumatra, gelombang hujan dan angin kencang mulai melanda sejumlah wilayah:
- Kota Langsa
- Aceh Timur
- Aceh Tamiang
- Kabupaten-kabupaten lain di Aceh dan Sumut
Laporan sementara mencatat banjir lokal, longsor, dan gangguan aktivitas warga akibat intensitas hujan yang jauh di atas normal. Kondisi topografi terjal dan sistem drainase yang terbatas memperparah dampak di beberapa wilayah.
Posisi Siklon Pukul 15.30: Sudah di Langkat, Menuju Medan
Hingga pukul 15.30 WIB, pusat siklon terdeteksi berada di Kabupaten Langkat dan diprediksi memasuki Kota Medan sekitar pukul 16.30 WIB.
Warga Medan diimbau bersiap menghadapi hujan sangat deras dan angin kencang, termasuk potensi genangan di titik-titik rawan banjir.
Siklon Senyar diprediksi bertahan hingga 28 November 2025 sebelum keluar menuju Perak, Malaysia.
Fenomena Langka yang Makin Mungkin Terjadi
Indonesia jarang dilintasi siklon tropis karena posisinya berada dekat ekuator. Banyak sistem melemah sebelum mencapai daratan. Namun Senyar, seperti halnya Vamei (2001), menunjukkan bahwa pola cuaca ekstrem di Asia Tenggara kini makin tidak terduga.
Faktor-faktor pemicu antara lain:
- Suhu muka laut yang lebih hangat
- Sirkulasi atmosfer yang mendukung pertumbuhan sistem
- Kondisi iklim global yang berubah
Para ilmuwan menilai anomali semacam ini bisa lebih sering terjadi di masa depan.
Mitigasi Menjadi Kunci
Fenomena ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan pemerintah. Wilayah pesisir hingga dataran tinggi di Sumatra harus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko:
- Hujan ekstrem
- Angin kencang
- Gelombang tinggi
- Banjir dan longsor
Perbaikan sistem drainase, pemantauan cuaca aktif, dan adaptasi terhadap iklim ekstrem dibutuhkan agar kerugian dapat ditekan. (Net)
Editor : Editor Satu