Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Pulang Berobat dari Medan, Enam Warga Rantauprapat Tewas Tertimbun Longsor di Taput

Editor Satu • Kamis, 27 November 2025 | 12:15 WIB

 

Rumah duka keluarga korban tanah longsor asal Rantauprapat yang meninggal di Desa Sibalanga, Taput.
Rumah duka keluarga korban tanah longsor asal Rantauprapat yang meninggal di Desa Sibalanga, Taput.

LABUHANBATU, METRODAILY — Enam warga Kota Rantauprapat dilaporkan meninggal dunia setelah tertimbun tanah longsor di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, Selasa (25/11/2025).

Seluruh korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa setelah rumah tempat mereka beristirahat ambruk dihantam material longsor dari perbukitan.

Dari enam korban, lima di antaranya merupakan satu keluarga yang berdomisili di Jalan Multatuli, Binaraga, Rantau Utara, Labuhanbatu. Mereka adalah Amelia Azhari Lubis (11), Nurjannah (36), Nurasiah (45), Uswatun Hasanah (67), dan Sumiati (63).

Satu korban lainnya adalah Opung Nerla Simanjuntak, warga Kampung Tempel, Rantauprapat.

Berangkat untuk Berobat, Justru Terjebak Maut

Informasi dihimpun menyebutkan, para korban berangkat dari Rantauprapat pada Senin malam (24/11/2025) menuju Medan. Tujuan utama perjalanan adalah check-up kesehatan Sumiati di salah satu rumah sakit di Medan.

Mereka menumpangi mobil rental Toyota Calya putih bernomor polisi BK 1986 AFF, dikemudikan seorang sopir bernama Acong.

“Mereka ke Medan naik mobil rental. Untuk berobat,” kata Yendrik Lubis (37), mantan suami Nurjannah sekaligus ayah kandung Amelia, saat ditemui di rumah duka.

Setelah urusan berobat selesai, rombongan tidak langsung kembali ke Rantauprapat. Mereka memilih berlibur dengan melintasi jalur Lintas Barat Sumut melalui kawasan Taput.

“Enggak langsung pulang, mereka sempat berlibur,” ujar Yendrik.

Istirahat di Rumah Warga, Longsor Terjadi Seketika

Saat melintas di Desa Sibalanga, para korban memilih beristirahat di salah satu rumah warga setempat. Sopir beserta mobil berada di seberang jalan. Tidak ada tanda-tanda bahaya ketika mereka berhenti.

Baca Juga: Pelatihan Kapasitas Kinerja PPPK Labura 2025 Dibuka, Ini Pesan Wabup

Namun hanya beberapa saat berselang, tebing perbukitan di belakang rumah itu tiba-tiba longsor. Material tanah dan batu langsung menghantam rumah dan menimbun seluruh penghuni di dalamnya.

“Sopir dan mobil selamat. Sopir yang langsung memberi tahu kami,” jelas Yendrik.

Kerinduan Ayah Berubah Duka

Yendrik tidak pernah membayangkan rindu kepada putrinya, Amelia, justru menjadi pertanda perpisahan untuk selamanya. Selama beberapa hari ia tidak bertemu Amelia karena menjaga ibunya yang sakit di rumah sakit.

“Karena beberapa hari jaga mamak saya di RS, saya belum sempat ketemu Amelia,” ucapnya.

Pada Selasa pagi, Yendrik bergegas ke rumah, mengira Amelia sudah pulang lebih cepat dari SD Negeri 4 Rantau Utara karena peringatan Hari Guru.

“Tapi ternyata sejak Senin malam mereka sudah berangkat ke Medan,” tambahnya.

Tak ada firasat apa pun sebelum kabar malang itu datang.

“Enggak ada firasat buruk. Cuma rasa rindu saja. Sampai akhirnya dapat kabar dari warga,” ujarnya lirih.

Pantauan di rumah bercat hijau muda di Jalan Multatuli, Rantauprapat, warga tampak berdatangan untuk melayat. Sejumlah tetangga ikut membantu membersihkan halaman dan ruangan rumah sembari menunggu informasi terbaru dari Taput.

Di rumah itu kini tinggal seorang pria, suami baru almarhumah Sumiati. (Fajar/smg)

 

Editor : Editor Satu
#Longsor Taput #tewas tertimbun longsor