GUNUNGSITOLI, METRODAILY- Desakan agar Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas II B Gunungsitoli, Sumatera Utara, Tonggo Butarbutar, dicopot dari jabatannya terus bergema. Tindakan dugaan pemukulan terhadap seorang warga binaan dinilai sebagai bentuk premanisme dan pelanggaran etika yang tidak pantas dilakukan oleh pejabat pembina.
Kali ini, kritik keras datang dari Perkumpulan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Kepulauan Nias. Mereka menilai langkah evaluasi internal yang dilakukan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Sumatera Utara belum menyentuh akar persoalan di tubuh lembaga tersebut.
Ketua Perkumpulan Senior GMKI Kepulauan Nias, Agust Zega, menyebut tindakan yang diduga dilakukan Kalapas telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas seorang pejabat publik.
“Tindakan itu bukan lagi persoalan disiplin, tapi premanisme yang melanggar norma dan etika. Kalapas sebaiknya segera diganti dan diproses sesuai hukum,” Tegas Agust, Selasa (24/10/2025).
Agust menegaskan, meski pihaknya bukan lagi organisasi mahasiswa, para alumni GMKI tetap memiliki tanggung jawab moral terhadap daerah dan penegakan nilai kemanusiaan di Kepulauan Nias. Ia menilai, pernyataan Kepala Kanwil Ditjenpas Sumut, Yudi Suseno, yang menyebut situasi lapas aman dan terkendali, terkesan menutupi fakta di lapangan.
“Pernyataan itu seperti pembelaan terhadap pelaku. Bisa saja laporan dari bawah sudah disaring, hanya bagian baiknya yang disampaikan,” ucapnya.
Ia mendesak Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia (Kemenimipas RI) menurunkan tim independen untuk memeriksa langsung kondisi di Lapas Gunungsitoli serta mendengar kesaksian para warga binaan tanpa tekanan.
“Kalau benar ada ucapan atau perilaku yang menyinggung etnis tertentu, itu sudah melewati batas moral. Lapas bukan tempat mempermalukan seseorang atas dasar suku atau asal-usul,” kata Agust.
Insiden dugaan penganiayaan terhadap warga binaan bernama Hendrikus Rebusma Batee terjadi pada Rabu, 22 Oktober 2025. Kepala Lapas Gunungsitoli, Tonggo Butar Butar, diduga memukul Hendrikus Bate’e, seorang tamping dapur, ketika ia hendak mengantar roti kepada warga binaan lain yang tengah berada di ruang isolasi.
Akibatnya, Hendrikus mengalami luka di bagian kening dan mengeluarkan darah. Insiden itu sempat memicu ketegangan di dalam lapas sebelum akhirnya berhasil dikendalikan oleh petugas pengamanan.
Meski pihak Kanwil menepis tudingan tersebut, tekanan publik agar penanganan dilakukan secara transparan kian menguat. (al)
Editor : Leo Sihotang