TAPSEL, METRODAILY-Sejak usia 11 Tahun di kala duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, Maria Angelika Aritonang, sudah mengalami gangguan penglihatan. Namun, ia menyadarinya saat berusia 13 tahun pada medio 2021 lalu. Gelap dan hitam dilihatnya saat membuka mata kiri, setelah bangun pagi.
Maria Angelika saat ini berusia 17 Tahun, pelajar kelas tiga di SMA Negeri 1 Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah. Anak pasangan Bunomo Aritonang dan Medi Sinaga, yang keduanya buruh tani perkebunan karet di Desa Simarpinggan, Kecamatan Kolang. Sebuah desa terpencil yang tidak memiliki jaringan telepon seluler.
Jumat (24/10/2025) pagi, Maria bersama ibunya, Medi telah bersiap-siap di RSUD Kabupaten Tapanuli Selatan di Sipirok. Kemarin mereka tiba, dan menginap di ruang rawat inap rumah sakit plat merah itu. Tujuannya, mengejar kesembuhan pada mata Maria, dengan operasi katarak gratis Tambang Emas Martabe, program perusahaan tambang di Batangtoru yang dikelola PT Agincourt Resources (PTAR).
Dari desa, Maria dan ibunya harus mengendarai ojek dengan ongkos Rp 50 ribu sekali jalan ke Pasar Kolang. Dari Kolang, mereka menumpang angkutan desa ke Kota Sibolga, selanjutnya menyambung angkutan lain ke Kota Padangsidimpuan. Dan terakhir, dengan angkutan desa ke Pasar Sipirok. Melewati empat kabupaten dan kota.
Sementara ayah Maria, Bunomo, harus tinggal di rumah, karena juga sedang sakit selama sepekan terakhir ini.
“Waktu kelas lima SD itu, dia bermain-main dengan temannya, dilempar pulpen, kena mata kirinya. Tapi dia tak pernah cerita, dan baru setelah dua tahun tidak ada lagi yang dilihatnya,” ulas Medi, tentang tragedi kecil yang berdampak fatal pada mata kiri Maria.
Medi telah berupaya beberapa kali demi mengembalikan penglihatan anak sulungnya itu. Dengan jalan obat tradisional, maupun medis. Tapi dokter yang ditemuinya kala itu, mengusulkan untuk operasi yang membutuhkan biaya puluhan juta rupiah. Hal itu yang membuatnya menunda niat. Sebab penghasilan yang sedikit sebagai buruh tani, Medi dan suami juga tak jarang kesulitan dan harus berutang membagi biaya sekolah anak dan kebutuhan sehari-hari.
“Tapi saya bilang, ‘gak usah patah semangat, nak. Ini kalau nanti ada duit kita, pasti mamak bawa berobat’. Tiap hari saya berdoa, pastilah Tuhan jawab doa-doa saya ini,” ungkap Medi parau, sedikit menggigil menahan dingin hawa Sipirok yang sedang hujan.
Medi mengingat-ingat peristiwa pada Rabu (15/10/2025) lalu, saat ia ingin memperbaiki sepeda motor milik keluarganya. Medi tanpa sengaja melihat spanduk berisi ajakan operasi katarak gratis. Ia menduga penglihatan Maria bakal dapat terobati dengan cara itu. Medi bersemangat, dan lusanya, ia mendatangi pusat layanan kesehatan setempat. Lantas diarahkan untuk datang ke RSU Pandan, di ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah, sesuai jadwal yang tertera, Minggu (19/10/2025).
Di RSU Pandan, Maria ikut operasi katarak. Dan tuntas hari itu juga. Kemudian, besoknya perban penutup mata telah dibuka dan ditetesi obat mata. Dokter yang memeriksa kemudian mengetes penglihatan pasca operasi, dan saat itu Maria dapat membilang isyarat angka yang ditunjukkan dokter dengan jari. Padahal sebelumnya, mata kiri itu tak lagi melihat sama sekali.
“Maria yang saya bawa sebelumnya takut tapi semangat. ‘Kita serahkan semua sama Tuhan ya nak’. Saya pesankan. Besoknya setelah operasi itu, dia sudah lihat angka yang ditunjukkan dokter itu, meski pun katanya masih buram-buram, tapi sudah melihat,” ulas Medi, haru.
Medi dan Maria semakin bersemangat, mendambakan penglihatan kembali seperti semula. Apalagi dokter yang menangani meyakinkan mereka, jika operasi dilakukan secara berkala, besar harapan penglihatan mata kiri Maria bisa pulih. Maka, mereka pun ikut kembali pada operasi yang dilakukan di RSUD Tapanuli Selatan di Sipirok.
Sejak operasi pertama itu, hingga hari ini. Medi menyebut, sebenarnya penglihatan Maria sudah semakin terang dan jelas, dengan jarak yang semakin jauh. Maria juga mengamini.
“Dalam hatiku, Maria bisa lihat lagi, ya Tuhan terima kasih. Terima kasih Martabe. Ini nanti dia, matanya dibersihkan lagi, semacam operasi lanjutan, tapi sudah makin jelas penglihatannya,” kata Medi.
Maria, semakin percaya diri dengan cita-citanya. Meski pun tidak seperti semula ingin menjadi prajurit di angkatan darat. Namun, ia yakin dengan nilai dan rangking sepuluh besar di sekolah, akan bisa mencapai cita-cita lain, berprofesi di bidang hukum.
“Aku memang bercita-cita jadi Kowad. Tapi kondisinya begini. Tapi begitu pun, punya keinginan juga di bidang hukum kalau kuliah nanti, karena itu jurusanku,” Maria bersuara tegas, di sela pasca operasi lanjutan.
Kepala Rumah Sakit Mata Mencirim 77 Kota Medan, dr Syarifuddin yang memimpin tim operasi katarak gratis ini. Tentang Maria, sedikit keajaiban baginya di mana kondisi awal mata anak itu tidak melihat lagi, dan sulit meyakinkan Maria bahwa operasi yang dilakukan bisa sebagai jalan pemulihan. Namun, ia memastikan bahwa gangguan pada mata gadis tersebut merupakan katarak.
“Kita jelaskan bahwa ini operasinya mudah-mudahan bisa mengembalikan, untuk perbaikan penglihatan,” jelasnya.
Dr Syarifuddin menjelaskan, ia dan timnya bekerja bukan sekadar kerja sama antara lembaga kesehatan yang dipimpinnya dengan PTAR. Namun juga dorongan nurani sebagai dokter. Karena itu, bersama keinginan mereka agar pasien dapat sembuh, maka pasien seperti kondisi Maria harus kembali mendapat tindakan lebih lanjut, sampai penglihatan kembali pulih.
“Kami merasa, anak itu seperti anak kami juga. Perlu kami berikan juga apa yang terbaik bisa kami berikan. Makanya kami suruh datang lagi kemari dengan fasilitas biaya, kami berikan,” jelas dokter spesialis mata itu.
RSUD Tapanuli Selatan merupakan rumah sakit ketiga menjadi lokasi penyelenggaraan program operasi katarak gratis Martabe tahun 2025. Program bertajuk ‘Buka Mata Lihat Indahnya Dunia’ ini, sejak awal hingga tahun 2024 telah melakukan operasi terhadap 12.000 ribu mata. Dan tahun ini targetnya, 1.400 mata.
“Untuk rumah sakit Sipirok (Tapanuli Selatan) ini, totalnya sekitar 350 orang. Secara umum, well, saya akan tambah lagi, ini rumah sakit ketiga. Keempat di Siantar, dan kelima di Mencirim Kota Medan,” jelas Manajer Umum Operasional PTAR, Rahmat Lubis.
Rahmat merinci, jika target tahun ini tercapai. Maka, PTAR telah mengoperasi mata dengan total 13.400 mata. Sementara progres tahun ini, sudah mencapai angka 700 mata yang telah dilakukan operasi katarak.
Menurut Rahmat, secara teknis program operasi katarak gratis Martabe relatif mudah dibanding dengan program pemberdayaan masyarakat PTAR lainnya. Alasannya, karena program ini bisa dilihat langsung dampak dan manfaatnya sejak beberapa hari atau sepekan kemudian, saat pelaksanaan.
Ke depan, kata Rahmat, program operasi katarak gratis ini masih akan menjadi bagian dari program andalan PTAR. Meski pun, semakin hari semakin sulit mengumpulkan orang-orang yang menderita katarak.
Operasi katarak gratis ini telah dilaksanakan di RS Bhayangkara Batangtoru, RSU Pandan dan RSUD Tapanuli Selatan. Pada jadwal selanjutnya, akan dilaksanakan di RS Mata Siantar pada 21—23 November dan RS Mata 77 Medan pada 29—30 November 2025. (SAN)
Editor : Editor Satu