SIDIMPUAN, METRODAILY - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Pendidikan Tapanuli Selatan (IPTS) Kabinet Biru Periode 2025–2026 menggelar aksi refleksi dan doa bersama di Halaman Bolak pada Selasa (30/9/2025) malam, sebagai bentuk peringatan atas peristiwa September Berdarah yang meninggalkan luka mendalam dan kontroversi panjang yaitu Gerakan 30 September 1965 atau biasa disebut G30S/PKI tercatat sebagai bagian kelam sejarah bangsa.
Dalam satu malam, sejumlah petinggi militer diculik,disiksa,lalu ditemukan tak bernyawa di lubang buaya, kejadian ini buka hanya tragedi berdarah, tapi juga titik balik sejarah yang mengubah arah bangsa.
Kegiatan ini berlangsung penuh khidmat, ditandai dengan penyalaan lilin, doa bersama, serta renungan moral oleh mahasiswa. Dengan nuansa sederhana namun sarat makna, acara tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan generasi muda akan pentingnya menjaga nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, serta persatuan bangsa.
Presiden Mahasiswa (Presma) IPTS, Syahrial Siregar yang biasa dipanggil Cak Regar, Rabu (1/10/2025) dalam pernyataannya menegaskan, bahwa aksi refleksi ini merupakan bentuk komitmen mahasiswa dalam menjaga ingatan sejarah dan memperjuangkan nilai kemanusiaan.
“Peristiwa September Berdarah adalah luka sejarah yang tidak boleh dihapuskan dari ingatan kita. Justru dari peristiwa itu, kita belajar betapa pentingnya memperjuangkan keadilan, menegakkan supremasi sipil, serta memastikan tragedi serupa tidak kembali terjadi di tanah air. Mahasiswa harus terus hadir di garda terdepan membela rakyat,” ungkapnya.
Selain doa bersama, mahasiswa juga melakukan refleksi melalui orasi moral dan musikalisasi puisi yang dibawakan secara oleh perwakilan peserta. Dengan lantunan syair penuh makna yang diiringi dengan alunan musik, suasana menjadi hening dan khidmat. Musikalisasi puisi tersebut menggambarkan penderitaan masa lalu, jeritan keadilan yang belum tuntas, sekaligus harapan akan masa depan yang lebih damai dan adil.
Dalam pernyataan resmi, BEM IPTS turut menyampaikan poin-poin penting yang menjadi seruan mahasiswa, di antaranya:
1. Menegakkan supremasi sipil dengan memastikan bahwa kekuasaan sipil memiliki kontrol penuh atas kebijakan penting negara.
2. Mendesak Presiden Republik Indonesia untuk membuktikan keterlibatan asing dalam gelaran aksi pada Agustus lalu melalui pembentukan tim investigasi yang kredibel dan independen.
3. Usut tuntas kasus pelanggaran HAM masa lalu dan masa kini.
4. Hentikan segala bentuk intimidasi dan kriminalisasi terhadap rakyat yang bersuara.
5. Mendesak pemerataan infrastruktur pendidikan khususnya di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
6. Mendesak pemerintah meningkatkan kesejahteraan guru dan tenaga pendidik di seluruh Indonesia.
Acara kemudian ditutup dengan penyalaan lilin oleh seluruh peserta yang hadir sebagai simbol harapan akan masa depan bangsa yang lebih adil, damai, dan demokratis.
BEM IPTS juga menghimbau seluruh mahasiswa agar tetap solid dan satu komando dalam memperjuangkan kebenaran.
“Melupakan sejarah adalah awal dari pengkhianatan. Maka tugas mahasiswa sebagai agen perubahan adalah memastikan setiap tragedi kelam tetap dikenang, agar menjadi pelajaran berharga dalam membangun masa depan bangsa yang lebih baik. BEM IPTS tidak akan pernah dikendalikan oleh siapapun, selain oleh hati nurani yang berpihak pada rakyat,” tegas Presma Syarial Siregar menutup pernyataannya.(Rif)
Editor : Metro-Esa