MADINA, METRODAILY – Wakil Bupati Mandailing Natal (Wabup Madina) Atika Azmi Utammi Nasution mengungkap sejumlah kendala yang dihadapi pemilik dapur Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) di sekitar Kota Panyabungan.
Menurut Atika, hambatan utama yang ditemui adalah keterbatasan modal awal pembangunan dapur serta kelengkapan verifikasi faktual dan administrasi.
“Masalahnya, pemilik dapur terkendala pada modal. Untuk membangun satu dapur bisa sampai Rp1,5 miliar, itu uang yang banyak,” ujar Atika saat meninjau empat dapur SPPG di Panyabungan, Senin (8/9/2025).
Baca Juga: Targetkan Swasembada Beras, Pemko Siantar Panen Raya 31 Hektare Padi di Dusun Matio
Atika berharap Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dapat memberikan pinjaman kepada masyarakat yang hendak membangun dapur SPPG. Dengan begitu, program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto poin kedelapan bisa segera terwujud di Kabupaten Madina.
Wabup menegaskan, keterlambatan pengoperasian dapur berdampak langsung pada pemenuhan hak anak-anak untuk mendapatkan gizi yang baik.
“Kalau operasional sudah ditanggung APBN. Tapi untuk belanja awal, misalnya membeli ompreng seharga Rp50 ribu dikali 3.000 anak, itu sudah Rp150 juta. Harusnya ini bisa dibantu Himbara agar program berjalan cepat,” jelas Atika.
Baca Juga: Buruh PKS PT RAS Demo Tuntut Upah Lembur Rp335 Juta
Dari empat dapur yang ditinjau, baru satu dapur yang beroperasi, yakni Yayasan Cahaya Semesta Bersama, yang melayani 2.456 siswa.
Sementara Yayasan Aksi Solidaritas Bersama masih menunggu verifikasi akhir untuk melayani 3.660 siswa, meski sudah menerima dana operasional untuk 20 hari kerja.
“Baru dua SPPG yang beroperasi sampai hari ini. Pemerintah berharap yang lainnya bisa segera berjalan, karena ada hak anak-anak di Madina yang harus dipenuhi,” pungkas Atika. (net)
Editor : Editor Satu