MEDAN, METRODAILY – Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Pematangsiantar terus menggencarkan gerakan literasi dan numerasi. Upaya ini diwujudkan dengan layanan perpustakaan keliling, bantuan ribuan buku, hingga kolaborasi bersama berbagai stakeholder.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Pematangsiantar, Hamzah Fanshuri Damanik, menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan inklusif yang ramah masyarakat.
“Dengan literasi, kita bisa memiliki kesadaran dan berpikir kritis terhadap nilai-nilai yang ada, sehingga masyarakat dapat menjadi dirinya sendiri,” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama jurnalis mitra Tanoto Foundation di Medan, Rabu (27/8/2025).
Baca Juga: 4 Konsultan Pengawas Pembangunan Jalan di Dinas PUPR Batubara Jadi Tersangka
Selain menghadirkan koleksi buku berkualitas dan layanan dengan prinsip 5S (salam, sapa, senyum, sopan, santun), perpustakaan juga rutin mengadakan lomba literasi berbasis media sosial, lomba resensi buku, hingga kegiatan seni dan teater agar masyarakat merasa perpustakaan sebagai “rumah kedua”.
Kolaborasi dengan Berbagai Pihak
Berbagai program literasi ini mendapat dukungan penuh dari lembaga pemerintah, dunia perbankan, hingga organisasi pendidikan:
-
Perpusnas RI: bantuan 1.000 buku untuk 53 kelurahan dan 3 taman bacaan masyarakat, plus DAK non-fisik Rp500 juta.
-
Dinas Perpustakaan Provinsi Sumut: bantuan gerobak baca, 400 buku, dan pojok baca digital.
-
Bank Sumut: membangun ruang audio visual senilai Rp250 juta dan mendukung produksi film sejarah perjuangan rakyat Siantar.
-
Bank Indonesia: menghadirkan BI Corner dengan fasilitas baca modern.
-
Tanoto Foundation: mendampingi penyusunan Peraturan Wali Kota (Perwa) Literasi sebagai pedoman gerakan literasi di Siantar.
Baca Juga: Sukses Meski Hanya 5 Hari Persiapan, Panitia Aquabike & F1 Powerboat Puji Pemkab Toba
Dengan inovasi tersebut, jumlah pengunjung perpustakaan tahun 2023–2024 melonjak hingga 60–70 ribu orang per tahun. Saat ini perpustakaan berstatus akreditasi C, dengan target naik ke B sesuai standar nasional.
“Siantar memang tidak punya Gramedia, tapi ini peluang bagi perpustakaan untuk menghadirkan layanan setara toko buku modern. Kami ingin masyarakat merasa perpustakaan sebagai rumah kedua yang inklusif, ramah, dan mendukung literasi numerasi,” tegas Hamzah. (mea)
Editor : Editor Satu