Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Hari Kelima Modifikasi Cuaca di Langit Danau Toba, Hujan Buatan Mulai Turun di Toba, Samosir, dan Siantar

Editor Satu • Rabu, 30 Juli 2025 | 18:48 WIB
Persiapan menabur garam sebagai upaya modifikasi cuaca di langit Danau Toba.
Persiapan menabur garam sebagai upaya modifikasi cuaca di langit Danau Toba.

DANAU TOBA, METRODAILY – Langit Danau Toba menjadi medan operasi hujan buatan selama lima hari berturut-turut, sejak Sabtu (26/7/2025) hingga Rabu (30/7/2025).

Hingga hari kelima, hujan buatan mulai turun di sebagian wilayah Toba, Samosir, Pematangsiantar, dan Simalungun.

Operasi ini dilakukan sebagai respons terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan ekosistem Danau Toba.

Bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI Angkatan Udara, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengerahkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan menabur ribuan kilogram garam (NaCl) ke awan-awan potensial hujan.

Ratusan Kilogram Garam Ditebar dari Udara

Kepala Stasiun BMKG Silangit, Gatot Rudiantoro, menyebutkan bahwa operasi penyemaian dilakukan setiap hari menggunakan pesawat Casa milik TNI AU yang berangkat dari Bandara Silangit.

“Setiap hari kami lakukan antara dua hingga tiga sortie (penerbangan penyemaian). Pada 26 Juli dua sortie, 27 Juli tiga sortie, dan pada 29 Juli kami membawa 700 kilogram garam untuk disebar tiga kali di langit Danau Toba,” ujar Gatot, Selasa (29/7/2025).

Wilayah target penyemaian mencakup kawasan Samosir, Sianjurmulamula, Simalungun, hingga Dairi dan sebagian Tapanuli Selatan.

Hujan Mulai Turun, Tapi Belum Merata

Kepala BBMKG Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa hujan sudah mulai turun di beberapa titik meski belum merata. Faktor kondisi awan dan arah angin sangat menentukan keberhasilan TMC.

“Memasuki hari ketiga, hujan mulai tercatat di utara Toba, selatan Toba, dan sebagian kecil wilayah Samosir. Namun potensi awan belum menyelimuti seluruh kawasan Danau Toba,” ungkap Hendro.

Data BMKG menunjukkan intensitas hujan bervariasi dari 0,5 mm hingga 50 mm. Kawasan selatan Danau Toba tercatat paling tinggi curah hujannya, sementara wilayah Samosir dan utara Toba masih relatif rendah.

“Suhu udara di Toba sekitar 30–32 derajat Celcius, cukup ideal untuk pembentukan awan. Tapi kita tetap tergantung pada dinamika atmosfer harian,” tambahnya.

Hari Kelima: Awan Menipis, Penyemaian Dikurangi

Memasuki hari kelima (30 Juli), jumlah sortie dikurangi karena awan potensial semakin menipis. Hanya satu kali penyemaian dilakukan dengan membawa 300 kilogram garam.

“Trip pagi tadi menyasar wilayah Samosir dan Dairi. Kita evaluasi terus apakah bisa dilakukan penyemaian tambahan sore ini,” ujar Gatot.

Sementara pada hari terakhir besok, Kamis (31/7/2025), tim TMC masih standby untuk operasi penutup, namun kembali bergantung pada kondisi awan dan arah angin.

Langkah Darurat Hadapi Karhutla

Modifikasi cuaca ini merupakan bagian dari langkah darurat mengatasi karhutla yang mulai mengancam kawasan hutan lindung dan pertanian di sekitar Danau Toba.

BMKG bersama BNPB dan TNI AU akan terus mengevaluasi hasil penyemaian untuk menentukan upaya lanjutan.

Meski hasil belum maksimal di seluruh wilayah, hujan buatan dinilai berhasil menekan potensi penyebaran api dan mendukung suplai air tanah. (Bbs)

Editor : Editor Satu
#tabur garam #karhutla #danau toba #modifikasi cuaca