SIDIMPUAN, METRODAILY-Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), sebagai wilayah Provinsi Sumatra Utara yang berbatasan langsung dengan Provinsi Riau dan Sumatra Barat, dinilai semakin terpinggirkan dalam hal pembangunan. Itu diungkapkan Sekretaris Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sumut Anwar Fahmi Siregar, Sabtu (26/7/2025).
Anwar menuturkan, wilayah yang ditopang lima kabupaten/kota ini, sangat kurang diperhatikan dalam segi pembangunan baik secara infrastruktur, pendidikan dan kesehatan.
“Banyak jalan yang sangat rusak di Tabagsel, bila dibanding daerah lain di Sumut. Tahun ini hanya jalan Sipiongot ke Sipirok pembangunan derah tingkat I di Tabagsel, harapan kita itu juga jangan sampai gagal. Meski pun pada proses lelangnya ada persoalan dan dalam penanganan KPK,” jelasnya dalam diskusi sesama mahasiswa berasal dari Tabagsel di Kota Padangsidimpuan.
Jalan lain yang perlu perhatian dan merupakan kewenangan pemerintah provinsi, di antaranya jalan dari Aek Godang, Padanglawas Utara ke Sibuhuan, Padanglawas. Kemudian, Jalan By Pass Abdul Harus Nasution, dan Jalan Batunadua-Hutaimbaru di Kota Padangsidimpuan. Dan banyak lagi di Kabupaten Mandailing Natal dan Tapanuli Selatan.
“Sebagai perbandingan, Jalan By Pass di Balige, Tapanuli Utara dan Parapat sangat bagus dan mulus. Sementara di Padangsidimpuan dan daerah lainnya itu sangat menghambat aktivitas ekonomi masyarakat dan membahayakan pengemudi,” katanya.
Padahal secara pendapatan dan sumber daya, kata Anwar, Tabagsel juga memberikan timbal balik kepada Sumatra Utara melalui sektor pertambangan dan perkebunan.
“Dari segi kesehatan, sudah puluhan tahun masyarakat Tabagsel tidak punya rumah sakit rujukan tingkat nasional di regional ini. Kalau sudah perlu pengobatan lanjutan harus ke Medan atau ke Bukit Tinggi di Sumbar,” tuturnya.
Karena beberapa fakta itu, Anwar menilai harus ada perhatian dari Pemerintah Provinsi dan Nasional bagi Tabagsel. Meski pun secara politis, Gubernur Bobby Nasution tak cukup populer di Tabagsel, Anwar berharap menantu Joko Widodo itu turun tangan menjawab persoalan ini.
“Secara demografis ada sekitar 1 juta orang di Tabagsel ini. Sudah sangat layak ada rumah sakit rujukan kelas Nasional. Dengan kata kasarnya, pasien dari sini tidak lagi mati-mati di jalan ke Medan atau ke Sumbar,”
Demikian juga dari segi pendidikan. Tabagsel yang sejak zaman Hindia Belanda, telah melahirkan tokoh-tokoh pergerakan, ilmuwan dan pelopor pendidikan, namun saat ini tidak lagi berdaya saing secara pendidikan.
“Perlu ada Perguruan Tinggi Negeri di sini untuk mengakselerasi pembangunan daerah menuju Indonesia Emas 2045. Tidak ada waktu lagi, tokoh-tokoh berasal Tabagsel juga harus bersatu, mendorong pemerintah untuk segera membangun dari segi ekonomi, pendidikan dan kesehatan di daerah ini,” katanya.
Anwar menilai Tabagsel sudah sangat jauh tertinggal dan semakin terpinggirkan dibanding daerah lain di Sumatra Utara. Ia pun berharap, Tabagsel harus memekarkan diri secara otonom daripada menjadi ‘anak tiri’ Provinsi Sumatra Utara.
(SAN)
Editor : SAMMAN