PAKPAK BHARAT, METRODAILY – Angka prevalensi stunting di Kabupaten Pakpak Bharat bikin tercengang: 28,9%, jauh di atas rata-rata Provinsi Sumatera Utara (18,9%) bahkan melampaui angka nasional (21,5%).
Kondisi ini memaksa pemerintah setempat bergerak cepat, menggandeng Tanoto Foundation untuk program penurunan stunting hingga tahun 2028.
Data tahun 2023 mengungkap disparitas mengejutkan: Kecamatan Kerajaan relatif lebih baik dengan angka stunting 19,5%, tetapi di tingkat desa, situasinya jauh lebih memprihatinkan.
Desa Menjanggut 1 tercatat sebagai wilayah dengan angka stunting tertinggi, mencapai 42%, hampir dua kali lipat rata-rata nasional. Sementara Desa Kuta Meriah juga masih tinggi, yakni 28%.
Wakil Bupati Pakpak Bharat sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Dr. Mutsyuhito Solin, M.Pd, membeberkan penyebab utama tingginya angka stunting: kemiskinan dan rendahnya pendapatan per kapita.
“Strategi dan inovasi kami fokus pada peningkatan kapasitas desa dan kecamatan untuk mendukung delapan aksi konvergensi, serta penguatan Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) bagi Tim Pendamping Keluarga,” ujar Solin.
“Kolaborasi dengan mitra swasta seperti Tanoto Foundation juga sangat penting,” tambahnya.
Kerjasama dengan Tanoto Foundation sendiri sudah dimulai sejak tahun lalu, dengan sasaran mulai dari anggota TPPS Kabupaten, Kecamatan, Desa hingga Tim Pendamping Keluarga.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan koordinasi lintas sektor.
Perwakilan Tanoto Foundation, Felly Ardan, menyebut program ini didukung riset dari SMERU Research Institute yang menekankan pentingnya penguatan koordinasi antara Pemkab dan pemerintah desa.
“Melalui program SIGAP, kami dorong perubahan perilaku keluarga dalam pola makan, pola asuh, dan perilaku hidup bersih dan sehat,” jelas Felly.
“Fokus tiga tahun ke depan adalah memperkuat perencanaan, penganggaran, serta pemanfaatan data oleh pemerintah kabupaten dan desa agar intervensi lebih tepat sasaran.”
Program pendampingan serupa juga dijalankan Tanoto Foundation di sembilan kabupaten lain di Indonesia. Targetnya: desa dengan jumlah kasus stunting tertinggi, memiliki data lengkap dan sosok champion di tingkat desa.
Hingga tahun 2028, program ini diharapkan tak hanya menurunkan angka stunting, tetapi juga membuka jalan untuk memperluas praktik baik ke desa-desa lain. (Rel)
Editor : Editor Satu