Dibuka oleh Wakil Bupati Tapanuli Selatan, Jafar Syahbuddin Ritonga yang ditandai dengan penanaman pohon di kebun raya. Sejatinya kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Rabu (25/6/2025) hingga Kamis (26/6/2025). Hari pertama diisi dengan pameran kreasi limbah, fashion show kreasi pakaian dari sampah anorganik, cerdas cermat lingkungan hidup, lomba pidato lingkungan hidup, dan lomba lagu lingkungan hidup.
Malam hari, para peserta yang merupakan pelajar dari 39 sekolah, akan berkemah di kawasan Kebun Raya Sipirok. Dan hari berikutnya, diisi salat subuh berjamaah bagi peserta muslim, dilanjutkan kegiatan luar ruangan yang memperkaya literasi lingkungan bagi peserta.
“Kegiatan ini dirancang untuk mendorong keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam membangun kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan bebas dari polusi plastik,” jelas Ongku Muda Sormin sebagai panitia yang juga Kepala Dinas Lingkungan Hidup Tapanuli Selatan.
Wakil Bupati mengharapkan, dari kegiatan ini akan lahir gagasan-gagasan inovatif dan aksi nyata yang tidak berhenti pada seremoni belaka. Namun terus bergulir pada praktik keseharian masyarakat, baik di sekolah, tempat ibadah, maupun ruang-ruang publik lainnya.
“Kepada generasi muda saya titipkan harapan, jadilah agen perubahan lingkungan yang berani kreatif dan konsisten. Kepada para pendidik dan pemimpin masyarakat, mari kita jadikan pendidikan lingkungan sebagai budaya hidup dan kepada semua stakeholder mari perkuat komitmen integritas dan keberpihakan terhadap kelestarian bumi kita tercinta,” pesan Jafar Syahbuddin.
Beberapa sekolah yang menjadi peserta merupakan binaan PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe Batangtoru. Program Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (GPBHLS) yang digagas PTAR, bertujuan untuk mewujudkan Sekolah Adiwiyata.
Salah satunya SMPN 2 Muara Batangtoru. Para pelajar sekolah ini menampilkan kreasi olahan sampah berupa bantal berbahan sampah plastik, barbel dari campuran plastik dan semen, pin bersumber plastik, buket berbahan kertas HVS dan plastik sisa sekolah, hingga Eco Enzim, cairan pembersih yang dibuat dari campuran aren dan sampah organik.
“Eco Enzim ini campuran bahan cairan sampah organik 3 kilo, 1 kilo gula aren dan 10 liter air. Eco Enzim digunakan sebagai cairan membersihkan lantai, memperkaya unsur hara tanah dan bisa juga membersihkan kolam ikan. Boleh, lima ribu saja satu botol, pak,” terang Aulia Rahayu Batubara, seorang siswi SMPN 2 Muara Batangtoru, sembari menawarkan produknya dengan bijak.
Sekolah lainnya, SDN 1007715 Telo. Produk kreasi siswa-siswi dan guru di sekolah ini mirip dengan sekolah sebelumnya. Berupa bantal pelangi terbuat dari sampah plastik, eco enzim, eco brik, kompos, peta dari bubur kertas, vas dari bekas kulit telur, kerajinan tangan dari sampah styrofoam.
“Jadi setiap guru harus punya produk olahan sampah,” kata Wendi, guru yang menjadi ketua dalam program binaan PTAR ini.
Supervisor Environmental Rehabilitation PTAR, Mahyu Dharsono Harahap mengatakan, peringatan ini sangat baik dalam membangun kesadaran lingkungan utamanya bagi anak-anak. Terlebih soal polusi plastik, yang menjadi tema dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 ini: Ending Plastic Pollution.
“Permasalahan plastik sudah menjadi permasalahan global, sudah menjadi permasalahan yang sangat serius sehingga kita harus melakukan aksi mengurangi sampah plastik. Perubahan sikap dan perilaku yang ramah lingkungan, dengan mengurangi plastik sekali pakai, membawa tas belanja itu merupakan hal kecil yang bisa membawa dampak besar bagi kelestarian alam,” katanya dalam sambutan acara.
Di kawasan PTAR, terang Dharsono, budaya tanpa plastik sudah dilakukan dengan ketat. Bahkan untuk wadah minuman, karyawan harus menggunakan tumbler isi ulang.
“Perusahaan akan tetap konsisten, memilah sampah, tanpa plastik. Dan harapannya masyarakat juga akan sadar, bahwa plastik itu merusak dan lama terurai, merusak alam ke depan,” jelasnya setelah aksi tanam pohon dalam kegiatan itu. (SAN)
Editor : SAMMAN