SIMALUNGUN, METRODAILY – Makam Guru Jason Saragih, pelopor pendidikan di Kabupaten Simalungun, kini tampil lebih layak dan representatif setelah resmi direnovasi.
Peresmian renovasi makam yang berada di Pematang Raya ini dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Jumat (2/5).
Prosesi peresmian dan ziarah dipimpin langsung oleh Bupati Simalungun Anton Achmad Saragih, didampingi Wakil Bupati Benny Gusman Sinaga, Ketua TP PKK Ny Darmawati Anton Achmad Saragih, Ny Rospita Benny Gusman Sinaga, serta jajaran pimpinan OPD Pemkab Simalungun.
Baca Juga: Meriah! 753 Peserta Berlaga di MTQN ke-51 Simalungun
Menurut Anton, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Hardiknas 2025 yang mengusung tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Sebelumnya, Hardiknas juga diisi dengan upacara, pengumuman pemenang Olimpiade Sains Nasional tingkat SD dan SMP, serta penyerahan hadiah kepada para juara.
"Hardiknas harus menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya pemerintah, tapi juga orang tua dan para guru sebagai mentor di lembaga pendidikan," tegas Anton.
Kiprah Sang Guru Pejuang
Guru Jason Saragih merupakan tokoh penting dalam sejarah pendidikan di Tanah Simalungun. Lahir pada tahun 1883 di Nagakasiangan (kini masuk wilayah Serdang Bedagai), Jason adalah putra Balim Saragih dan Urow br Purba, cucu dari Mula Saragih, seorang Panglima Raja Raya.
Baca Juga: Putri Agita Meliala Raih Gelar Putri Persahabatan di Ajang Puteri Indonesia 2025
Keprihatinannya melihat banyak anak tak bersekolah membuatnya tergerak menjadi pendidik. Ia meninggalkan jabatannya sebagai mandor dan atas dorongan Pendeta August Theis, ia berangkat ke Depok, Jawa, pada 1 Juli 1911 untuk mengikuti pendidikan guru.
Empat tahun kemudian, ia kembali ke tanah kelahirannya dengan gelar Diploma Guru.
Jason memulai pengabdian sebagai guru bantu di Zending Volkschool, lalu menjadi kepala sekolah di Zendings Vervolgschool. Ia dikenal sebagai sosok berdedikasi tinggi yang tak segan menjemput muridnya langsung ke rumah-rumah.
Pada 3 September 1928, Jason mendirikan Komite Na Ro Marpondah bersama para tokoh lokal dan menjabat sebagai ketua. Salah satu tugas pentingnya adalah menerjemahkan buku pendidikan ke dalam bahasa Simalungun (Rudang Ragi-Ragian).
Baca Juga: SK Kadinkes dan Sekwan Labuhanbatu Dibatalkan, BKPP: Sesuai Perintah BKN
Pengabdiannya sebagai guru berlangsung selama 43 tahun, hingga pensiun pada 1 Februari 1958. Meski sudah pensiun, Jason tetap mengajar demi mendidik generasi muda.
Jason Saragih wafat pada 30 Maret 1963. Dua bulan kemudian, Bupati Simalungun Radjamin Poerba melalui SK No. 305/1963-Uod, menetapkan gelar "Pelopor/Bapak Pendidik Simalungun" sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.
Pemkab Simalungun juga telah mengabadikan namanya sebagai nama jalan di Kota Pematangsiantar dan Sondi Raya, serta melakukan renovasi makam dan pembangunan gapura yang baru saja diresmikan.
"Perjuangan beliau sangat luar biasa. Guru Jason berjalan kaki dari kampung ke kampung, menembus hutan dan jalan setapak demi mengajar. Kita patut meneladani semangat itu," ungkap Anton.
Baca Juga: Polisi Tangkap Pengedar Sabu di Aekkanopan, Terhubung ke Jaringan Tanjungbalai
Inspirasi bagi Generasi Muda
Semangat Guru Jason telah menginspirasi banyak tokoh Simalungun, termasuk mantan Bupati Tuan Madja Purba dan Radjamin Purba, yang merupakan didikannya. Anton pun mengajak generasi muda untuk meneladani semangat belajar dan ketekunan sang guru.
Dalam sambutannya, Anton juga menegaskan bahwa pendidikan adalah salah satu pilar utama pembangunan nasional sesuai visi Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita.
"Pendidikan adalah hak dasar semua warga negara. Tugas kita bersama untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam mengakses ilmu, karakter, dan keterampilan untuk meraih masa depan yang lebih baik," pungkasnya. (esa)
Editor : Editor Satu