Dugaan Keracunan Massal di SMAN 1 Matauli, Pengawasan Katering Sekolah Dipertanyakan
Editor Satu• Jumat, 2 Mei 2025 | 12:28 WIB
Siswa SMAN 1 Matauli Pandan mendapatkan perawatan medis dari pihak RSUD Pandan.
TAPTENG, METRODAILY — Sebanyak 27 siswa SMAN 1 Matauli Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dilarikan ke RSUD Pandan setelah mengalami gejala mual dan pusing usai menyantap makan siang di asrama sekolah, Selasa (29/4/2025) sekitar pukul 14.00 WIB.
Insiden ini memicu sorotan terhadap pengawasan pihak sekolah terhadap penyedia makanan.
Dari total siswa yang terdampak, 21 orang menjalani rawat jalan dan sudah diperbolehkan pulang. Enam siswa lainnya masih menjalani perawatan inap. Tim medis RSUD Pandan juga melakukan observasi terhadap tujuh siswa lainnya sebagai tindakan preventif.
“Setibanya di IGD langsung kita tangani. Semua sudah tertangani, meskipun enam orang masih dirawat,” ujar salah satu petugas medis RSUD Pandan, Rabu (30/4).
Kepala SMAN 1 Matauli Pandan, Deden Rachmawan, mengaku belum bisa memastikan penyebab kejadian. Ia menyatakan masih menunggu hasil pemeriksaan dari rumah sakit.
“Saya belum bisa berspekulasi. Keselamatan siswa tetap prioritas kami,” katanya singkat saat ditemui di kantor sekolah.
Insiden ini menimbulkan tanda tanya besar terhadap standar dan pengawasan makanan di lingkungan sekolah berasrama. Apalagi, makanan disiapkan oleh pihak ketiga sebagai rekanan katering sekolah. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyedia makanan maupun Dinas Kesehatan setempat.
Sejumlah guru dan staf sekolah yang berada di RSUD Pandan juga enggan memberikan komentar. Bahkan, beberapa di antaranya melarang awak media mengambil gambar di lokasi.
Berikut nama-nama siswa yang sempat mendapatkan penanganan medis: Delano Pardamean, Abiezu Emanuel, Gheza Syamira, Jogi Paula Sianturi, Damai Marbun, Bernard ZC, Arisewan, Widia Angraini, Dewi Vica, Abigael Lahagu, Noval Arisa, Wesly Zebua, Glen Simanullang, Ewaldo Delon, Verticalis, Rafi Ghufran, Halisa Yurin, Hamdan Harahap, Rizki Hutabarat, Eko Riski, Elen Dwi Cantika, Ikhsan Karunia Bansen, Aqila Sahada, Tiara Putri, Quinsa Sitohang, dan Boas Hutagalung.
Pihak Dinas Pendidikan maupun BPOM belum memberikan pernyataan terkait pengujian makanan yang dikonsumsi para siswa. Investigasi lebih lanjut masih berlangsung. (Zatam)