Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Monumen Raja Sang Naualuh, Simbol Perlawanan di Siantar

Editor Satu • Senin, 28 April 2025 | 12:19 WIB
Peresmian Monumen Raja Sang Naualuh Damanik.
Peresmian Monumen Raja Sang Naualuh Damanik.

SIANTAR, METRODAILY – Sebuah babak baru dalam upaya merawat sejarah lokal dimulai di Kota Pematangsiantar. Sabtu (26/4), Monumen Raja Sang Naualuh Damanik, sosok pejuang yang meletakkan dasar berdirinya Siantar, resmi berdiri megah di Jalan Sang Naualuh, Kelurahan Pahlawan, Kecamatan Siantar Timur.

Monumen ini tak sekadar menjadi penghormatan terhadap sang raja, melainkan juga lambang perlawanan rakyat terhadap penjajahan.

Dalam balutan pakaian adat Simalungun, Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi mengungkapkan, pembangunan monumen ini merupakan bentuk nyata komitmen Pemko Pematangsiantar dalam melestarikan kearifan lokal.

Baca Juga: Project Pop Goyang Konser 154 Tahun Kota Siantar

Wesly menyebut, sebelum peresmian, pada 15 April 2025 lalu, pihaknya bersama ahli waris dan keturunan Raja Sang Naualuh telah berziarah ke makam sang raja di Bengkalis, Riau.

"Monumen ini adalah pengingat perjuangan beliau untuk tanah ini. Mari kita jaga dan rawat bersama, agar generasi mendatang memahami nilai kepahlawanan yang diwariskan," ujar Wesly.

Semangat untuk menjaga warisan perjuangan itu juga disuarakan oleh ahli waris, Difi Sang Nuan Damanik. Dalam sambutannya, Difi mengisahkan perjalanan panjang pembangunan monumen yang sudah dirintis sejak 2011 namun baru terealisasi pada 2024.

Baca Juga: Atlet PON XXI dan Popprovsu dari Siantar Terima Bonus

Baginya, monumen ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan saksi bisu keteguhan hati Sang Naualuh dalam menolak dominasi penjajah, meski akhirnya beliau dimakzulkan dan dibuang ke Bengkalis.

"Semangat itu yang harus kita teladani. Kepentingan rakyat harus selalu diutamakan di atas segalanya," tegas Difi.

Keinginan kuat untuk memperjuangkan Raja Sang Naualuh Damanik sebagai Pahlawan Nasional mengemuka dalam peresmian ini. Ketua Panitia Peresmian, Pandapotan Damanik, hingga Ketua Ihutan Bolon Damanik, Ir Panner Damanik, menyuarakan aspirasi serupa.

Mereka berharap dukungan luas agar pengakuan terhadap jasa Sang Naualuh dapat terwujud, sejalan dengan berdirinya stadion, nama jalan, dan kini monumen atas nama beliau.

Baca Juga: Pengurus TP PKK Simalungun Periode 2025–2030 Dilantik

Monumen ini dirancang dengan detail makna: dari pagar hingga patung utama yang menggambarkan Raja Sang Naualuh mengangkat tangan—simbol perlindungan dan pengayoman terhadap rakyatnya.

Arsitek Hotman Damanik menjelaskan, posisi monumen di tempat ini pun bukan tanpa alasan. "Inilah titik terakhir beliau menginjakkan kaki di Siantar sebelum dibuang ke Bengkalis," ungkapnya.

Peresmian monumen diawali dengan pengguntingan pita oleh Wesly Silalahi bersama Ny Liswati, ahli waris, dan Forkopimda, dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti.

Prosesi juga diwarnai penyerahan Hiou Pamotting dan pakaian adat Simalungun sebagai penghargaan atas dedikasi pihak-pihak yang berperan dalam mewujudkan monumen bersejarah ini.

Baca Juga: Pengurus TP PKK Simalungun Periode 2025–2030 Dilantik

Dalam suasana yang penuh khidmat, berbagai tokoh masyarakat dari keturunan raja-raja Simalungun, termasuk Bupati Simalungun H Anton Achmad Saragih, hadir untuk menyaksikan momen bersejarah tersebut.

Anton menekankan pentingnya meneladani semangat Raja Sang Naualuh: melayani rakyat dengan ketulusan tanpa pamrih.

"Selamat atas berdirinya Monumen Raja Sang Naualuh. Semoga ini menjadi titik awal kebangkitan baru Kota Pematangsiantar," ujarnya.

Penyerahan Dayok Nabinatur dan pertunjukan tortor menutup acara peresmian dengan penuh sukacita, seolah menjadi pernyataan bersama bahwa semangat Sang Naualuh tetap hidup dalam denyut nadi Kota Pematangsiantar. (LEO)

Editor : Editor Satu
#Monumen Raja Sang Naualuh