Barus Kembali Banjir, 1.000 Karung Bantuan Penahan Longsor Belum Dimanfaatkan
Editor Satu• Rabu, 23 April 2025 | 14:11 WIB
Kondisi pinggiran sungai Aek Sirahar Barus yang mulai rusak parah akibat banjir.
TAPTENG, METRODAILY – Hujan deras yang mengguyur Tapanuli Tengah (Tapteng) sejak subuh kembali menyebabkan banjir di wilayah Kecamatan Barus, Selasa (22/4/2025).
Ironisnya, banjir terjadi di tengah tumpukan bantuan yang belum dimanfaatkan: 1.000 karung goni penahan longsor dari Pemprov Sumut yang hingga kini belum digunakan oleh Pemkab Tapteng.
Padahal, bantuan tersebut sudah diserahkan oleh Dinas PU-PR Provinsi Sumatera Utara melalui UPTD PUPR Cabang Sibolga kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapteng sejak Senin (21/4).
"Karung goni itu fungsinya sebagai penahan longsor sementara, cukup diisi dengan tanah atau pasir," jelas Kepala UPTD PUPR Sibolga, Anto Oppungsunggu, saat dikonfirmasi.
Karung goni tersebut sedianya digunakan untuk menahan luapan Sungai Aek Sirahar yang dalam beberapa bulan terakhir terus mengancam badan jalan dan pemukiman warga. Namun hingga banjir kembali melanda hari ini, belum ada tanda-tanda pemanfaatannya oleh pihak BPBD.
Hal ini pun menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Anggota DPRD Tapteng Nico Sitompul menyesalkan lambannya tanggapan dari pihak Pemkab.
“Kalau kita tunggu lebih lama, jalan di depan Masjid Nahdlatul Islah di Kampung Mudik bisa putus. Itu bukan cuma soal infrastruktur, tapi menyangkut keselamatan warga dan keberadaan rumah ibadah,” tegas Nico.
Sebelumnya, Ketua Fraksi NasDem DPRD Sumut, Rahmansyah Sibarani, juga sudah mengonfirmasi bahwa bantuan tersebut telah disalurkan sesuai prosedur. Ia meminta pihak media untuk menelusuri langsung ke UPTD PUPR Sumut terkait hal itu.
Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa bagian tepi Sungai Aek Sirahar telah terkikis parah, dan sejumlah titik badan jalan mulai retak. Warga khawatir, jika hujan kembali turun deras dalam waktu dekat, kerusakan akan semakin meluas dan berisiko menimbulkan korban.
“Sudah ada pelajaran dari jembatan rambing yang putus beberapa waktu lalu. Jangan sampai terulang hanya karena tidak tanggap,” imbuh Nico.
Situasi ini menunjukkan pentingnya koordinasi yang cepat dan efektif antara instansi pemerintah provinsi dan kabupaten, terutama dalam merespons bencana alam yang berulang.(ts)