Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Pabrik Ubi Diduga Cemari Sungai Bahapal, PP Cek Lapangan

Editor Satu • Senin, 21 April 2025 | 10:33 WIB

 
Dan Koti Pemuda Pancasila Kabupaten Batubara, Saprudin Purba.
Dan Koti Pemuda Pancasila Kabupaten Batubara, Saprudin Purba.

BATUBARA, METRODAILY – Dugaan pencemaran Sungai Bahapal oleh limbah pabrik pengolahan ubi milik UD MJ di Desa Tanjung Parapat, Kecamatan Laut Tador, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, menuai reaksi dari sejumlah pihak.

Namun di sisi lain, suara masyarakat yang bergantung pada pabrik sebagai sumber penghidupan juga tak bisa diabaikan.

Komandan Inti (Dan Koti) Pemuda Pancasila Kabupaten Batubara, Saprudin Purba, menjadi salah satu pihak yang secara langsung melakukan pengecekan di lokasi. Ia menyebut limbah yang dibuang ke sungai terlihat berbuih dan mengeluarkan bau tidak sedap.

Baca Juga: Kembali ke Panggung, Shanty Tunjukkan Dunia Nyata Kerja kepada Anak-anak

“Saya bersama tim turun langsung ke lokasi pembuangan limbah UD MJ ke Sungai Bahapal. Kami lihat airnya berbuih dan berbau, saya duga limbah yang dibuang belum melalui proses penyaringan yang bersih,” ungkap Saprudin, Sabtu (19/4).

Ia juga menambahkan bahwa beberapa warga mengeluh karena aliran sungai yang dulunya menjadi habitat ikan kini mulai kehilangan daya dukung hayatinya. "Dulu masih ada ikan di sungai itu. Sekarang, sudah tidak ada lagi. Dugaan kami, ini akibat limbah," tambahnya.

Saprudin meminta pihak berwenang seperti Polres Batubara dan Dinas Lingkungan Hidup untuk segera turun tangan memeriksa operasional pabrik UD MJ, yang berlokasi di Desa Tanjung Parapat.

Baca Juga: Amanda Manopo Minta Tak Lagi Dikaitkan dengan Rumor

Namun di tengah sorotan itu, suara lain juga muncul. Saat dikonfirmasi lewat sambungan WhatsApp, Kepala Desa Tanjung Parapat, Aliman, menyampaikan bahwa sejauh ini tidak ada keresahan dari masyarakat. “Tidak ada yang resah, bahkan masyarakat membutuhkan pekerjaan di pabrik ubi,” ujarnya singkat.

Pernyataan tersebut menyoroti dilema yang sering muncul dalam pembangunan ekonomi di wilayah pedesaan—antara menjaga kelestarian lingkungan dan memastikan masyarakat tetap memiliki akses pada lapangan pekerjaan.

Sementara penyelidikan resmi dari otoritas terkait belum diumumkan, peristiwa ini menjadi cermin tarik-menarik antara kebutuhan ekologis dan ekonomi lokal. Apakah benar masyarakat tidak resah, atau justru belum berani bersuara? Dan bagaimana memastikan pabrik bisa terus beroperasi tanpa mengorbankan kualitas lingkungan?

Baca Juga: Jessica Mila Nikmati Peran Sebagai Ibu, Yakup Siap Tambah Anak

Pabrik seperti UD MJ memang membuka peluang kerja di desa. Namun jika tidak diawasi dengan ketat, dampak jangka panjangnya terhadap lingkungan bisa jauh lebih besar daripada keuntungan ekonomi sesaat.

Masyarakat, aparat, dan pengusaha perlu duduk bersama—menemukan jalan tengah agar Sungai Bahapal tetap mengalir bersih, dan dapur warga tetap mengepul. (net)

Editor : Editor Satu
#Pabrik pengolahan ubi #pencemaran sungai