Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Cuaca Ekstrem Menghantam, Siantar Perlu Tanggap Darurat Iklim

Editor Satu • Selasa, 8 April 2025 | 12:35 WIB

CUACA EKSTREM: BMKG memperkirakan cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi akan melanda Indonesia hingga Februari.
CUACA EKSTREM: BMKG memperkirakan cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi akan melanda Indonesia hingga Februari.

SIANTAR, METRODAILY – Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah kecamatan di Kota Pematangsiantar, Sabtu (5/4), menjadi pengingat serius akan meningkatnya frekuensi bencana akibat perubahan iklim.

Dalam laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara, fenomena hujan deras, angin kencang, hingga puting beliung tercatat terjadi di tiga kecamatan: Siantar Marimbun, Siantar Barat, dan Siantar Marihat.

Di Siantar Marimbun, hujan lebat disertai puting beliung merusak satu unit rumah warga. Sementara di Siantar Barat, tanah terkikis hingga menyebabkan tembok rumah warga ambruk.

Baca Juga: Libur Lebaran Sepi, Parapat Perlu Strategi Baru Hadapi Persaingan Wisata

Di Siantar Marihat, pohon-pohon tumbang menimpa kabel listrik dan menghambat arus lalu lintas, berisiko menimbulkan kecelakaan dan gangguan layanan listrik.

Sri Wahyuni Pancasilawati, Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa maupun pengungsi. Namun, ia menekankan bahwa data bersifat sementara dan bisa berubah seiring pendataan lanjutan.

"Tim dari BPBD Kota Pematangsiantar telah turun ke lokasi terdampak untuk melakukan asesmen dan pembersihan material seperti pohon tumbang," ujarnya, Minggu (6/4).

Baca Juga: Frekuensi Banjir Serbelawan Meningkat, Pemkab Simalungun Siapkan Langkah Darurat

Fenomena cuaca ekstrem yang makin sering terjadi menandakan bahwa Pematangsiantar kini masuk dalam kategori daerah dengan potensi bencana iklim, terutama saat peralihan musim.

“Banjir, angin kencang, dan tanah longsor tidak lagi musiman—tapi bisa terjadi sewaktu-waktu. Kita perlu memperkuat sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan masyarakat,” ujar seorang relawan kebencanaan lokal yang enggan disebutkan namanya.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kejadian cuaca ekstrem di Sumut dalam beberapa tahun terakhir. Para pengamat kebencanaan menyerukan agar pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada penanganan pascakejadian, melainkan juga memperkuat sistem drainase, memperbanyak ruang terbuka hijau, hingga mempercepat edukasi mitigasi di tingkat kelurahan.

Baca Juga: Jalur Vital, Polisi Amankan Jalur Longsor di Parapat–Siantar

"Ini momentum penting bagi Pemko Pematangsiantar untuk menyusun ulang peta risiko bencana berbasis data iklim terbaru," imbuh aktivis lingkungan setempat. (ant)

Editor : Editor Satu
#tanggap darurat #Siantar #cuaca ekstrem