MADINA, METRODAILY – Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Kotanopan, Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, dikabarkan kembali beroperasi secara terang-terangan.
Founder Madina Care, Wadih Al-Rasyid, menyoroti hal ini dengan keras dan menilai bahwa pihak kepolisian, baik Kapolres Madina AKBP Arie Sofandi Paloh maupun Kapolsek Kotanopan, telah gagal dalam upaya penertiban.
Wadih bahkan meminta Kapolres Madina untuk melepaskan jabatannya jika tidak mampu mengatasi persoalan ini. “Kalau tidak sanggup menertibkan PETI, lebih baik mundur saja. Daripada terus dikibuli para pelaku,” ujarnya dengan nada kesal.
Menurut aktivis HMI ini, langkah-langkah reklamasi yang sebelumnya digaungkan oleh Kapolres Madina hanya bersifat seremonial semata.
“Mereka sibuk mengkampanyekan reklamasi, bahkan sampai panen jagung dan diekspos ke mana-mana. Tapi kenyataannya, pelaku PETI masih bebas beraktivitas di siang hari. Seolah-olah Kapolsek dan Kapolres menutup mata,” tambahnya.
Sebagai putra daerah, Wadih mengaku malu melihat kondisi ini. Ia menilai bahwa bukan hanya pemerintah daerah yang tampak pasif dalam menanggapi masalah PETI, tetapi aparat penegak hukum (APH) juga terlihat lemah.
“Sejak awal kami sudah mengingatkan bahwa para penambang akan mencuri waktu. Tapi tetap saja mereka diberi ruang. Sekarang kita semua kena tipu,” tegasnya.
Wadih pun mendesak Kapolda Sumatera Utara untuk segera mengevaluasi kinerja Kapolres Madina, khususnya dalam menangani persoalan PETI yang berpotensi merusak lingkungan dan memicu bencana. Ia tak ingin kejadian banjir bandang dan bencana lainnya yang pernah menimpa daerah sekitar kembali terulang di Madina.
“Saya harap Kapolda segera bertindak tegas. Jangan sampai kita menyesal ketika bencana sudah terjadi,” pungkasnya. (net)
Editor : Editor Satu