Wanita Asal Padangsidimpuan Hilang di Malaysia, Diduga Korban Perdagangan Manusia
Editor Satu• Jumat, 14 Februari 2025 | 10:20 WIB
Suami korban, Rio Sinaga dan kuasa hukumnya Ary Azi.
SIDIMPUAN, METRODAILY – Seorang wanita asal Padangsidimpuan, Siti Rohaijah, dilaporkan hilang sejak 22 Januari 2025.
Suaminya, Muhammad Syandi Rio Sinaga, menduga istrinya menjadi korban sindikat perdagangan manusia yang menyalurkan tenaga kerja ilegal ke Malaysia.
Melalui kuasa hukumnya, Ary Azi, SH, Rio telah berupaya mencari keberadaan istrinya, termasuk melapor ke Badan Perlindungan Migran Indonesia (BPMI) di Batam. Namun, hingga kini, ia belum mendapatkan kabar pasti.
Rio menelusuri informasi terkait keberangkatan istrinya dan menemukan nama seorang agen berinisial L, yang diduga menyalurkan pekerja ke Malaysia.
Ia mendatangi L di sebuah ruko di Jalan Thamrin, Padangsidimpuan.
"Dibilangnya istri saya memang berangkat, dan surat-suratnya sedang diurus," kata Rio menirukan jawaban L.
Rio semakin curiga setelah mengetahui bahwa paspor istrinya dibuat dengan alasan perjalanan wisata, bukan untuk bekerja.
Hal ini dikonfirmasi oleh seorang pegawai Imigrasi di Sibolga berinisial SH, yang menyebut bahwa paspor Siti dibuat melalui L.
Rio mencoba menghubungi L menggunakan nomor baru, berpura-pura menjadi istrinya. Respons L terkesan panik dan mengancam. "Kau ya Siti, jangan cari masalah sama aku. Ku jemput kau sekarang," tulis L dalam pesan WhatsApp.
Lebih lanjut, Rio mendapat informasi bahwa seorang pria bernama Ahmad di Malaysia diduga menjadi penampung pekerja ilegal yang dikirim oleh L.
Ahmad menghubungi Rio (yang menyamar sebagai Siti) dan mempertanyakan kenapa ingin pulang, padahal sudah diantar ke majikan di Malaysia.
Saat dikonfirmasi, L tidak membantah bahwa ia menyalurkan pekerja tanpa melalui jalur resmi. Ia mengakui bahwa proses legal terlalu panjang dan banyak calon pekerja yang membutuhkan uang cepat.
"Kalau lewat pencari kerja resmi harus ada pelatihan tiga bulan. Mereka butuh makan, makanya ada yang cari jalur cepat," ujar L.
L juga menyebut bahwa sistem ini memang salah menurut hukum, tetapi tetap dilakukan karena ada kebutuhan di lapangan. "Kalau ada yang keberatan, ya memang salah. Tapi kalau membantu orang, apa salahnya?" ujarnya.
Kasus ini menyoroti tingginya risiko perdagangan manusia di tengah sulitnya akses kerja legal ke luar negeri.
Rio berharap aparat berwenang segera menindaklanjuti kasus ini dan membantu menemukan istrinya.
Sementara itu, kuasa hukum Rio mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk lebih tegas dalam memberantas sindikat perdagangan manusia yang memanfaatkan celah ilegal dalam sistem ketenagakerjaan.
Kasus ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut. (Tim)