TAPSEL, METRODAILY - Baru baru ini, ditemukan Orangutan Tapanuli mati di kawasan ekosistem Batangtoru tepatnya pada tanggal 4 Agustus 2024 lalu.
Ketua NNB Tapanuli Selatan Riski Abadi Rambe kepada awak media Rabu (28/8) menyatakan sangat menyayangkan atas kejadian tersebut.
“Yayasan Orangutan Sumatera Lestari - Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) yang katanya melindungi dan melestarikan populasi orangutan bagaikan jauh panggang dari api. Yang katanya merupakan NGO's atau lembaga Human Orangutan Conflict Respon Unit (HOCRU) hanya merupakan semboyan belaka," imbuh Riski.
Menurut Riski, kematian Orangutan Tapanuli ini diakibatkan lambatnya penanganan yang dilakukan dan dokter hewan YOSL-OIC berada di Medan sehingga tidak terselamatkan.
“Ini bukti bahwa mereka tidak serius dalam penanganan terhadap pelestarian Orangutan dan dianggap hanya sebagai ajang bisnis untuk memperkaya diri atau kelompok/lembaga untuk mendapatkan donor. Dan ini bukan kejadian pertama, sebelumnya juga terjadi dan ditutup-tutupi oleh YOSL-OIC. Sangat disayangkan mereka tidak menjelaskan dan memberikan keterangan terhadap kematian Orangutan Tapanuli tersebut," ujar Riski.
Senada dengan Riski, Pegiat Konservasi, Perimadona Rambe juga memberikan komentar. Disebutkannya, pada tanggal 24 Agustus 2024 lalu, YOSL-OIC membuat kegiatan memperingati Hari Orangutan tepatnya di Hotel Torsibohi Kecamatan Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan.
Dalam kegiatan tersebut diundang GJI (Green Justice Indonesia), PRCF Indonesia (Pelestari Ragam Hayati dan Cipta Foundasi Indonesia), WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia), COP (Centre for Orangutan Protection), SRI (Sumatra Rainforest Institute),
"Satupun dari NGO ini tidak ada yang angkat bicara atas kematian orangutan tersebut. Ini kali kedua matinya Orangutan Tapanuli dalam 2 bulan ini," ucap Perimadonna.
BBKSDA-SU juga yang merupakan Stakeholder utama dalam perlindungan Satwa khususnya Orangutan Tapanuli, ikut diam dan tutup mata dalam persoalan ini.
“Kita dari CSO lokal mengecam keras atas kejadian ini. Kita akan bersuara kepada Pihak yang berwenang bahkan akan melakukan aksi kepada BBKSDA-SU sampai ke Menteri LHK untuk mengusir dan tidak memperbolehkan NGO luar yang mengatasnamakan melindungi dan melestarikan orangutan tapanuli berkegiatan di Kawasan Eksositem Batangtoru,”
“Kita akan kampanyekan bahwa NGO tersebut hanya sebatas mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya untuk mendapatkan donor memperkaya pribadi atau golongan mereka semata,”
Riski Abadi Rambe dan Perimodona Rambe kompak menolak menjadikan Kawasan Ekosistem Batangtoru menjadi Kawasan Strategis Nasional yang diduga hanya untuk kepentingan penjualan karbon yang hasilnya akan mereka nikmati sendiri.(Rif)
Editor : Metro-Esa