TAPUT, METRODAILY- Tampil memamerkan hasil karya di ajang internasional tentunya menjadi dambaan banyak orang. Apalagi hasil karya itu tergolong langka dan berkelas. Bagi Satika Simamora, perannya selama ini sebagai pendamping sebuah industri rumahan belumlah tuntas, bila pasar global belum terengkuh.
Jan Pieter Simorangkir, Taput
===
Minuman itu dikemas dalam botol persegi empat berukuran 250ml dan 500ml. Warna isi yang menghitam, beda dari minuman sejenis pada umumnya, kerap mencuri perhatian pengunjung Pasar Nusadua, Bali. Plus kotak hitam legam, sebagai pembungkus luar botol persegi, semakin menambah classy tampilannya.
Wine Coffee Gogo label yang tertulis. Brand orisinil asal Tapanuli Utara, Sumatera Utara ini bersanding dengan sederet minuman anggur lokal Indonesia yang kebanyakan dipatenkan oleh pengusaha Bali. Malah bukan sekadar bersanding sejajar, dibandingkan Hatten Wines, Sababay, atau Cape Discovery, sebenarnya Wine Coffee Gogo berada di kelas tersendiri. Itu oleh sebab ia bukan berbahan dasar anggur, melainkan dari olahan permentasi biji kopi.
Keruan saja, selain menggoda indra pengecap para turis, kehadirannya mendapat banyak apresiasi dari para petinggi negeri. Sebutlah, Yanti Airlangga Hartarto, istri Menko Perekonomian, yang membeli beberapa botol dan langsung meng-endorse-nya di akun media sosial. Elisabeth Tjandra Thohir tak mau kalah. Istri Menteri BUMN ini langsung mengundang pemilik produk untuk membahas berbagai peluang. Ada juga rombongan Hetty Andika Perkasa, istri Panglima TNI kala itu, memborong beberapa botol.
Cerita indah di atas terjadi beberapa tahun lalu, saat Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang dilaksanakan di Bali, pertengahan November 2022. Masih membekas rasa bangga di senyum Satika Simamora, saat membuka kembali lembar memorinya dalam perbincangan dengan MetroDaily Jawa Pos, Jumat (26/4/2024) malam.
“Jarang-jarang home industry masuk ke perhelatan dunia seperti itu," katanya.
Sebagai Ketua Dekranasda Tapanuli Utara (Taput) waktu itu, Satika selalu mendukung penuh pelaku UMKM daerahnya. Sebelum memboyong Wine Coffee Gogo ke Bali, Satika juga mendampingi Marince Nababan, pemilik produk pangan industri rumahtangga (PIRT) itu, meraih Juara I di ajang Women 20 (W20) Indonesia 2022, di Parapat, empat bulan sebelum pelaksanaan G20 di Bali.
Tercatat, Dekranasda Taput mengirimkan 20 UMKM untuk bersaing dengan 106 UMKM se-Sumatera Utara dalam lomba kriya, fashion dan kuliner. Tiga UMKM dari Taput lolos hingga babak final dan Wine Coffee Gogo dari Pagaran sukses menyabet Juara 1. Prestasi ini membuahkan kesempatan mendapatkan showcase dalam Pameran UMKM di ajang G20.
Hanya 20 UMKM se-Indonesia yang beruntung memamerkan karya di depan para petinggi negara yang tergabung di G20, sebuah forum antarpemerintah yang terdiri dari 19 negara berdaulat plus Uni Eropa dan Uni Afrika.
Pentingnya Promosi
Sekadar gambaran, G20 bekerja untuk mengatasi isu-isu utama yang berkaitan dengan perekonomian global, seperti stabilitas keuangan internasional, mitigasi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Di sisi lain, menurut PBB, UMKM atau micro, small and medium sized enterprises (MSMEs) berkontribusi dalam mencapai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals-SDGs).
Ada lima kategori UMKM yang dipemerkan dalam acara Future SMEs Village: Local Wisdom For Global Sustainability. UMKM yang dianggap memiliki kearifan lokal terhadap dunia berkelanjutan ini adalah kategori produk future mobility, future craft, future fashion, future food, dan future wellness. Semua hasil produk dipamerkan dalam kegiatan berbasis warisan budaya dan kekayaan alam Indonesia.
Wine Coffee Gogo telah mengenalkan diri di perhelatan G20. Bayangkan, andaikan ke depan hasil karya rumahan ibu-ibu UMKM dari Taput ini dapat diterima masyarakat dunia. Bukan cuma angan-angan, barangkali tinggal selangkah lagi untuk mewujudkannya, andai saja berbagai kesempatan semacam pameran di Bali dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Nah, hal itulah yang hingga hari ini masih menyisakan rasa penasaran di diri Satika. Lebih tepatnya sedikit menyesal, sebab waktu di Bali, ia pribadi tak berkesempatan mempromosikan langsung produk Wine Coffee Gogo.
"Sebenarnya, pada saat kemarin ajang G20 di Bali itu, saya berharap besar bisa ikut serta dalam pameran. Apalagi saat itu hadir kepala negara di dunia. Tetapi, panitia membatasi peserta yang memamerkan hasil UMKM, hanya mengizinkan dua orang. Akhirnya tiket saya serahkan kepada pelaku UMKM-nya sendiri," terang perempuan kelahiran 17 Mei 1974 itu.
Di sini, Satika bukan bermaksud mengecilkan peran Marince Nababan sebagai pemilik produk. Lebih dari itu, sebagai pembina, ia merasa memiliki tanggungjawab yang lebih besar dalam mempromosikan hasil tangan anggota. Belum lagi ia juga mestinya bisa memanfaatkan relasi yang terbangun dari posisinya sebagai istri seorang bupati waktu itu.
Secara teknis, Satika paham betul tahapan pengolahan wine coffee. Cita rasa wine pada minuman kopi ini dihasilkan dari proses fermentasi buah kopi. Ada dua metode fermentasi kopi, yaitu ala Indonesia yang masih tradisional dan metode pembuatan wine asli.
Pada dasarnya, wine coffee kurang lebih sama dengan kopi pada umumnya. Bedanya, fermentasi biji kopi dilakukan lebih lama atau over fermented. Hasilnya, hadir karakter rasa kopi unik yang mampu membuka ceruk pasar tersendiri, berbeda dari produk kopi kebanyakan.
Dari aspek produk yang berkelanjutan, wine coffee berperan besar dalam memperbaiki pendapatan petani kopi saat harga anjlok akibat Pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Hasil panen yang berlebih dan kondisi terlalu matang, diolah melalui metode permentasi, sehingga tidak ada yang mubazir.
Kebetulan, bahan baku yang baik untuk membuat wine coffee adalah biji kopi yang benar-benar sudah matang, agar lebih memunculkan cita rasa asamnya.
Menurut Satika, pengolahan atau permentasi kopi menjadi minuman wine ini adalah bentuk kreativitas dari pelaku UMKM di Taput.
"Bagaimana pertanian ini, kenapa bisa menjadi wine dan kenapa rasanya seperti itu, itukan menjelaskannya bagian dari pemasaran,” katanya.
Ia berharap segera bertemu kembali momentum serupa G20, dimana ia tak ingin lagi menyiakan kesempatan untuk mempromosikan langsung peluang produk UMKM asal Taput ke dunia internasional.
Ia juga berharap semoga ke depan dapat mengaktualisasikan peran dirinya lewat amanah yang lebih tinggi. "Terkait pasar bagi Wine Coffee Gogo, itu menjadi tanggung jawab saya dan saya akan terus mempromosikan," katanya sembari berharap kepercayaan diri ibu-ibu yang selama ini didampinginya dengan sepenuh hati dapat semakin meningkat. (*)
Editor : Leo Sihotang