PALUTA, METRODAILY-Lima belas tahun sudah Syamsiah Siregar lumpuh. Hari-harinya terkulai di atas ranjang ruang tamu rumahnya di Desa Sipiongot, Kecamatan Dolok, Kabupaten Padanglawas Utara (Paluta), Sumatra Utara.
Tubuhnya kering kerontang, matanya dalam. Kulit pucat, dan tulang tubuhnya tampak berbentuk dengan lapisan kulit yang keriput. Syamsiah masih bertahan, dengan harapan ingin bisa sembuh, sediakala. Menyempurnakan ibadah.
"Ya, nak. Mau salat pun begini. Tidur terus, tidak apa-apa," suara parau nenek usia 70 tahun itu, yang terbaring di depan tingkap rumahnya.
Setiap harinya. Syamsiah hanya berbaring di depan jendela. Menyerap sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan rumahnya. Saddam Harahap (33), bungsu dari sepuluh bersaudara yang selama ini merawatnya.
Selasa (26/3/2023) petang, Syamsiah didatangi Kapolres Tapanuli Selatan AKBP Yasir Ahmadi SIK. Di rumah semi permanen peninggalan sang suami, yang ditinggali bersama anak bungsu, menantu dan cucunya.
Yasir lalu memberi semangat bagi Syamsiah. Juga berpesan kepada sang anak, yang selama ini merawat orangtuanya.
"Merawat orangtua harus sabar, ya Bang. Apapun cerewetnya orangtua, harus sabar," kata perwira yang rutin melawat masyarakat di berbagai daerah terpencil di Kabupaten Paluta dan Tapanuli Selatan, ini.
Sesungguhnya sakit merupakan tanda kasih Tuhan kepada hamba. Itu kata mantan Kapolsek Medan Sunggal ini. Lalu mengajak Nek Syamsiah agar mengambil hikmah penyakit yang ditanggungnya. Beribadah lebih khidmat.
"Tetap salat, ya Nek. Karena itu yang dibawa ke hadapan Tuhan. Dalam hati, tetap ingat Tuhan. Berdzikir. Jadi penyakit ini karena kasih sayang Tuhan, agar kita lebih banyak waktu kepadaNya," pesannya sebelum beranjak dari rumah di ujung gang sempit lorong dua Pasar Sipiongot itu.
Beberapa meter dari sini. Yasir kemudian mengunjungi keluarga Zulfan Hasibuan (55) dan Mawar Ida. Sama seperti Nek Syamsiah, Zulfan juga menderita penyakit stroke. Sembilan tahun lamanya.
Namun Zulfan masih bisa duduk. Meski pun harus dengan bantuan sang istri Mawar Ida. Ayah delapan anak itu, selama ini hanya pasrah menunggu ajal tiba. Upaya penyembuhan sesungguhnya telah banyak yang dilakukan. Baik secara medis atau non medis.
"Kami tetap berusaha. Selama ini ibulah yang kerja, ke sawah. Ibu berterimakasih sekali dikunjungi, diberikan motivasi," kata Mawar Ida dari ambang pintu rumahnya berhadapan dengan Masjid Al-Hasanah Jamiatus Siddiq, tempat Yasir akan menjadi imam salat berjemaah
Yasir Ahmadi polisi yang lahir dari keluarga ulama dan sederhana. Mendiang ayahnya, H Ahmad Syaukani seorang ulama pernah menjadi Ketua MUI Padangsidimpuan, dan juga tokoh Jam'iyatul Washliyah.
Karena itu. Tak heran jika ia juga kerap mendatangi dan membagikan santunan kepada keluarga penyandang masalah kesejahteraan sosial. Di samping memimpin salat berjemaah di masjid-masjid tempat yang dikunjunginya. Dan itu menjadi satu tabiat yang tak ditinggalkannya. (SAN)
Editor : SAMMAN