TAPSEL, METRODAILY- Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2024 di Kabupaten Tapanuli Selatan diisi dengan pembersihan sampah di Pantai Muara Opu, Desa Muara Upu Kecamatan Muara Batangtoru dan pelepasliaran Tukik (Anak Penyu) ke laut lepas Samudra Hindia, Minggu (25/2/2024).
Bengkel Sampah bersama Dinas Lingkungan dan PT Agincourt Resources, menginisiasi kegiatan yang dibalut E co Camp ini untuk membudayakan pengurangan produksi sampah. Diisi berbagai diskusi dan aksi mulai Jumat (23/2/2024) malam. Diikuti ratusan relawan dari berbagai lembaga pemerhati lingkungan.
Dalam kemah edukasi ini, peserta pun diwajibkan menggunakan peralatan dan perlengkapan yang zero waste , mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai. Sebagai bagian komitmen bersama menjaga lingkungan.
Besoknya, Sabtu (24/2/2024). Seluruh peserta Eco Camp kemudian melakukan aksi bersih dan mengumpulkan sampah dari pantai. Memilah sampah, yang anorganik dan organik. Memanfaatkan yang memiliki nilai keekonomian. Selanjutnya nanti dikelola Bengkel Sampah, sebagai lembaga bank sampah.
"Aksi ini diharapkan menjadi pemantik bagi seluruh lapisan masyarakat, menjaga dan merawat alam kita. Memberikan pemahaman bahwa sampah jika tidak dikendalikan akan menjadi malapetaka. Dan kita berharap, Pantai Muara Opu menjadi destinasi wisata yang bersih dengan lingkungan berkelanjutan," kata Founder Bengkel Sampah Nazamuddin Siregar, sambil menyampaikan apresiasi terhadap seluruh relawan, termasuk koorporasi yang mendukung seperti PT Agincourt Resources (PTAR).
Setelah pembersihan sampah (Beach Clean Up), Eco Camp kemudian diisi dengan diskusi dan berbagi literasi lingkungan bersama Sarmaidah Damanik, pemerhati lingkungan dari Conservation International (CI) Indonesia. Sarmaida memaparkan berbagai isu lingkungan dan krisis ancaman iklim, serta sikap yang harus diambil bersama.
Laskar Muara Opu dan Pelestarian Penyu
Minggu (25/2/2024), menjadi pucak kegiatan peringatan HPSN 2024 di Tapanuli Selatan. Seluruh peserta akan berpartisipasi melepasliarkan Tukik ke lautan. Di samping menanam berbagai jenis bibit pohon di sekitar pantai Muara Upu.
Pantai Muara Upu merupakan lokasi peneluran penyu. Dan di sini ada lima dari enam jenis penyu di Indonesia. Pada hari ini, 42 ekor Tukik dilepas dan menjadi harapan akan tumbuh dan berkembangbiak. Menjaga keanekaragaman hayati laut.
Seterusnya, Naposo-nauli Bulung (NNB), organisasi pemuda-pemudi desa kemudian membentuk Laskar Muara Opu. Yang akan bertugas menjaga, menggerakan dan melestarikan pantai Muara Opu di samping menjadikannya destinasi wisata berkelanjutan. Dipimpin Rinal Ahmadi, pemuda desa itu. Nantinya laskar ini menjadi Relawan Patroli Pantai.
“Kami sangat mendukung aksi seperti ini, agar generasi desa ini semakin berinovasi dan wawasannya terbuka memajukan desa. Kami sangat mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Muara Opu,” ungkap tokoh masyarakat Agusman Hasibuan dan Kepala Desa Muara Upu Jefri Simanjuntak.
Sementara itu, Senior Manager Kesehatan Lingkungan dan Keselamatan PTAR Hari Ananto menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung lingkungan berkelanjutan. Sebagai perusahaan pertambangan yang berbasis di Batangtoru, PTAR memiliki berbagai program dan kerjasama di bidang keberagaman hayati. Termasuk mendukung dan terlibat langsung dalam pelestarian penyu di Pantai Muara Opu.
“Di PTAR sendiri telah melaksanakan kepedulian terhadap sampah. Dengan cara membatasi penggunaan botol sekali pakai, seluruh karyawan wajib menggunakan tumbler. Dan di dalam perusahaan, ada fasilitas daur ulang sampah, Fasilitas Pemilahan Sampah,” terangnya.
Melihat sejarah pelaksanaan HPSN. Hari Antano juga menyebut, sampah yang tidak dikelola akan menjadi malapetaka, seperti peristiwa ledakan TPA Leuwigajah yang menyebabkan korban jiwa. Oleh karena itu, perusahaan akan ikut andil dan mengapresiasi kegiatan-kegiatan yang mendukung lingkungan berkelanjutan, seperti Eco Camp & Beach Clean Up seperti ini.
Ongku Muda Atas, selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup juga menegaskan komitmennya untuk tetap berperan memberikan dukungan dalam aksi-aksi bersih sampah. Berkolaborasi bersama berbagai lembaga pemerhati lingkungan.
Awal mula dicetuskan dibuat di Muara Upu pada dasarnya keprihatinan dengan kondisi lingkungan Muara Opu pada saat itu. Dan berkolaborasi dengan Bengkel Sampah, agar pantai bisa bersih. Sehingga terciptalah Muara Upu menjadi pusat peringatan HPSN di Tapsel,” urainya.
Terakhir, peringatan HPSN ini ditutup dengan pengangkutan sampah anorganik yang didukung armada Dinas Lingkungan Hidup dan pembagian peralatan bersih sampah di desa itu. (SAN)
Editor : SAMMAN