"Saat itu, tahun 2022 kami sedang melakukan survei sesar aktif di Danau Toba. Nah itu seperti bunglon dan menyaru dengan alam karena di sana pohonnya cukup lebat dan ada susunan batu setinggi 120 meter," kata oleh peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Danny Hilman Natawidjaja, beberapa waktu lalu.
Danny menyebutkan, hipotesis awal menunjukkan bahwa struktur itu adalah piramida terkait dengan geomorfologi kawasan tersebut. "Struktur batuan besar dengan tinggi mencapai 120 meter," katanya.
Danny menjelaskan, bentuk bangunan ini seperti piramida, dengan setengah badannya menempel ke bukit lapisan Tobatuff (batuan berpori sisa-sisa vulkanik) yang berumur sekitar 74 ribu tahun.
Danny juga menyebut ada kemiripan piramida di Danau Toba itu dengan Situs Gunung Padang, yang diklaim berumur sekitar 10 ribu tahun. Dirinya saat ini masih terus meneliti usia piramida di Danau Toba tersebut.
Menanggapi penemuan itu, Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, M Wafid mengatakan, otoritasnya menerbitkan beberapa poin penting. "Badan Geologi, berdasarkan data yang ada, belum memiliki informasi spesifik terkait temuan piramida ini," ujar Wafid dalam siaran persnya beberapa waktu lalu.
Wafid mengatakan, Badan Geologi telah mengkaji bahwa terdapat banyak keraguan tentang adanya peradaban pada periode 75 ribu tahun yang lalu, terutama pada saat terbentuknya Kaldera Toba.
Itu ditandai dengan berabagai bukti konklusif tentang peradaban pada periode ini sangat minim atau bahkan belum ditemukan sama sekali.
"Dalam kerangka penjelasan yang lebih realistik, Badan Geologi mencatat dua kemungkinan yang layak dipertimbangkan," sebut Wafid.
Kemungkinan pertama, struktur yang tampak seperti piramida mungkin adalah hasil dari triangular facet yang banyak terdapat di 'rim' Kaldera Toba.
Kedua, triangular facet mungkin terbentuk setelah pembentukan Kaldera Toba dan kemudian digunakan oleh peradaban yang muncul setelah peristiwa tersebut, sekitar 75 ribu tahun yang lalu.
"Sebagai informasi tambahan, dalam sejarah peradaban manusia, Homo sapiens melanjutkan ekspansinya dan menghuni benua Asia sekitar 60 ribu tahun yang lalu, dengan satu gelombang migrasi melalui garis pantai Samudera Hindia," terang Wafid.
Penjelasan Wafid ini mencoba untuk mengklarifikasi bahwa, sementara temuan piramida menarik, bukti yang mendukung peradaban pada periode pembentukan Kaldera Toba masih memerlukan penelitian dan penyelidikan lebih lanjut.
Badan Geologi diakui Wafid, berkomitmen untuk terus mengkaji temuan ini dengan sumber daya dan penelitian yang memadai.
Menyaru Seperti Bunglon
Terkait pernyataan yang menganggap piramida itu hanya melihat triangular facet, yakni efek erosi di tebing bukit-bukit, Prof Danny membantah. “Kecurigaan itu membuat saya naik sampai ke atas. Dan sudah jelas bahwa susunan itu bikinan manusia. Nanti bisa memicu studi komprehensif ke arkeolog," ujar dia.
"Jadi kami melihat punden berundak susunan sederhana yang juga disebut piramida. Bangunan ini dikasih teras batu-batu kecil, oleh orang biasa disebut punden berundak. Jadi istilah umum piramida bukan hanya di tanah datar yang berbentuk full," urai Prof Danny.
Lebih lanjut, Prof Danny menyebut bahwa keberadaan piramida di Danau Toba dibangun oleh peradaban yang sudah maju. Kini, para arkeologlah yang harus meneruskan penemuan ini.
"Piramida ini sudah berada di peradaban yang cukup maju. Itu bukan main-main. Karena bagaimana membawa batu-batu besar hingga ke atas bukit?" kata dia dengan nada tanya. (lp6/dtc) Editor : Metro Daily