Meriam ini dapat diputar 360 derajat. Materialnya diprediksi tembaga, kuningan atau perunggu, buatan pabrikan Inggris. Terbukti dari Lambang Kerajaan Inggris berbentuk mahkota di lambung meriam. Pada logo tertulis; H oni Soit Qui Mal Y Pens yang diketahui sebagai semboyan yang tertera dalam logo kerajaan Inggris.
Meriam Bottot tidak 'berdiri sendiri'. Tiga unit bunker berada di komplek perbukitan, yang diprediksi dibangun bersamaan dengan pengadaan meriam tersebut. Dua unit bunker di bukit yang sama dengan meriam, dan 1 lagi di bukit sebelahnya.
Meriam ini merupakan peninggalan masa penjajahan Belanda di Pantai Barat Sumatera Utara.
Selain aset sejarah berharga meriam, di Bottot juga terdapat pesona yang dapat dipadukan dengan keberadaan meriam, yakni keindahan pantai, view Teluk Tapian Nauli yang mempesona dan keindahan bawah laut.
Namun kondisi meriam peninggalan zaman penjajahan Belanda di Kabupaten Tapanuli Tengah terbilang cukup memprihatinkan. Pasalnya meriam itu sempat dalam kondisi tak terurus.
Meriam yang berdiri dikelilingi rerumputan hingga tampak adanya tanda- tanda pencobaan pencurian.
Kondisi terkini Meriam Bottot itu sempat diviralkan di TikTok oleh akun @pakpri1171, Jumat (4/8/2023) lalu.
"Aset desa yang akan kita lestarikan, meriam peninggalan tentara Jepang di puncak gunung di tepi laut Kabupaten Tapteng, kondisi masih bisa diputar dan diarahkan sesuai keinginan," beber pengunggah video.
Dalam unggahan tersebut tampak sejumlah bapak-bapak yang tengah berusaha memutar meriam tersebut.
Meski sudah berusia tua, meriam tersebut masih bisa diputar sejauh 360 derajat dan berfungsi seperti sedia kala.
Setelah lama tak terurus, pengunggah video mengungkap bahwa kini meriam beserta benteng dan bunker yang berada di lokasi tersebut sedang kembali ditinjau oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten dan Provinsi.
Terlihat rerumputan serta pepohonan yang mengelilingi Meriam Bottot sudah mulai dibersihkan. (leo/trc) Editor : Metro Daily