Selain itu, satu unit rumah semi permanen milik marga Panggabean rusak akibat tertimpa material bangunan sarang burung walet. Pondasi rumah juga terlihat retak dan bergeser. Kondisi ini ditenggarai akibat longsornya tanah disepanjang bantaran sungai. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Informasi yang diperoleh dari warga sekitar, kondisi bangunan berlantai tiga itu dalam keadaan kosong saat ambruk.
Salah seorang saksi mata di lokasi kejadian menyebutkan, aktivitas hujan yang sangat tinggi menjadi penyebab utama ambruknya bangunan. Sungai Pinangsori yang berada di bantaran sungai meluap dan mengikis pondasi bangunan, sehingga sarang burung walet milik warga Kota Sibolga itu roboh. Beberapa pokok sawit yang juga tumbuh di pinggiran sungai juga ikut tumbang terseret arus sungai.
Pantauan awak media, akibat abrasi ini, jarak palung sungai hanya tinggal 10 meter dari pemukiman penduduk. Jika tidak segera ditanggulangi, dikhawatirkan akan mengancam pemukiman penduduk serta gedung MTsN Tapanuli Tengah 2 yang berada disekitar lokasi.Kondisi saat ini, palung sungai semakin melebar ke arah kanan.
Terpisah, Camat Pinangsori, Beib Andi Haqiqi Manik menyebutkan, abrasi yang melanda wilayah sekitar pemikiman penduduk Lingkungan VI Kelurahan Pinangsori diakibatkan air sungai yang meluap. Bentuk alur sungai yang menikung 30 derajat, membuat arus sungai menghantam bantaran sungai secara telak.
Untuk mengendalikan dan mengurangi resiko daya rusak air, Beib menegaskan jika jalan satu-satunya adalah menormalisasi alur sungai. Pihaknya juga telah menyurati Balai Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Sumatera Utara, untuk melakukan normalisasi sekaligus pemasangan tanggul. Beib memastikan, dalam waktu dekat pihaknya akan turun berswadaya melaksanakan normalisasi sungai Pinangsori.
"Normalisasi dulu, salah satunya pembongkaran delta yang ada di tengah-tengah sungai. Dalam waktu dekat kita akan turun bersama masyarakat bergotong royong menormalisasi alur sungai," tukasnya. (ztm) Editor : Metro Daily