Dakota Johnson Jadi Marilyn Monroe, Wajah AI Sempat Dipasang lalu Dihapus

Editor Satu • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 15:47 WIB
Dakota Johnson memerankan Marilyn Monroe dalam film pendek eksperimental Flesh Impact karya Maggie Gyllenhaal yang tayang di Venice Film Festival 2026.
Dakota Johnson memerankan Marilyn Monroe dalam film pendek eksperimental Flesh Impact karya Maggie Gyllenhaal yang tayang di Venice Film Festival 2026.

VENICE, METRODAILY — Dakota Johnson mendadak menjadi sorotan setelah film pendek eksperimental Flesh Impact diputar perdana di Venice Film Festival 2026.

Bukan hanya karena ia memerankan Marilyn Monroe, tetapi juga karena sutradara Maggie Gyllenhaal sempat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat wajah Johnson lebih menyerupai ikon Hollywood tersebut.

Eksperimen itu akhirnya dibatalkan.

Gyllenhaal mengungkapkan bahwa ia sempat menggunakan teknologi AI berlisensi untuk memetakan wajah Marilyn Monroe secara digital ke wajah Dakota Johnson dalam tahap pascaproduksi.

Baca Juga:  “Nostradamus Cina” Ramal AS Kacau pada 2027, Ini Prediksinya

Namun, hasil manipulasi tersebut justru dinilai menghilangkan sesuatu yang dianggap paling penting dari film: ekspresi dan kemanusiaan aktris yang memerankannya.

Keputusan menghapus visual AI itu kemudian menjadi bagian menarik dari perdebatan mengenai Flesh Impact, film berdurasi 17 menit yang diproduksi untuk memperingati 100 tahun kelahiran Marilyn Monroe.

Membayangkan Marilyn Jika Berumur 100 Tahun

Ditulis dan disutradarai Maggie Gyllenhaal, Flesh Impact tidak mencoba mengulang biografi Marilyn Monroe.

Film ini justru mengajukan pertanyaan sederhana: bagaimana jika Marilyn Monroe tidak meninggal pada usia 36 tahun dan hidup hingga berusia 100 tahun?

Baca Juga: Virus Baru dari Kutu Ditemukan di China, 7 Pasien Meninggal akibat Koinfeksi

Gyllenhaal membagi karakter Marilyn ke dalam dua fase kehidupan.

Pada fase pertama, Marilyn ketika berada di puncak popularitas diperankan Dakota Johnson. Saat produksi berlangsung, Johnson berusia 36 tahun—usia yang sama dengan Marilyn ketika meninggal pada 1962 akibat overdosis barbiturat.

Johnson tampil dengan rambut pirang platinum dan tahi lalat khas Marilyn. Namun, transformasi tersebut tidak diarahkan semata-mata untuk membuat Johnson menjadi tiruan visual Monroe.

Fase kedua dimainkan aktris senior pemenang Oscar, Ellen Burstyn, yang saat ini berusia 93 tahun.

Burstyn memerankan Marilyn versi fiktif yang telah mencapai usia 100 tahun. Sosok tersebut digambarkan sebagai perempuan misterius yang mengikuti audisi teater di New York sembari menengok kembali pengalaman pahitnya di industri hiburan.

Baca Juga: 11 Hari Terjebak di Terowongan PLTA, Lu Haitao Akhirnya Diselamatkan

Di titik ini, Flesh Impact bergeser dari sekadar film tentang ikon Hollywood menjadi refleksi mengenai usia, eksploitasi terhadap perempuan dan bagaimana industri hiburan membentuk citra seorang aktris.

Wajah Dakota Johnson Diperdebatkan

Penampilan Dakota Johnson sebagai Marilyn langsung memicu perdebatan di media sosial.

Sebagian pengguna internet mempertanyakan pilihan Gyllenhaal karena secara fisik Johnson dinilai tidak memiliki struktur wajah yang benar-benar menyerupai Monroe.

Perdebatan tersebut bahkan menjadi semakin ramai setelah sejumlah gambar first-look film beredar.

Namun, Gyllenhaal tampaknya memang tidak menjadikan kemiripan fisik sebagai tujuan utama.

Dalam keterangannya kepada Variety, sutradara tersebut mengungkapkan bahwa ia sempat mencoba solusi teknologi: wajah asli Marilyn dipetakan secara digital ke wajah Johnson.

Baca Juga: Selat Malaka Jadi Kunci, Indonesia Perkuat Sumut sebagai Koridor Rantai Pasok Regional

Eksperimen itu ternyata tidak bertahan lama.

AI Dicoba, Kemudian Dibuang

Gyllenhaal mengatakan penggunaan AI sempat dilakukan dalam proses pascaproduksi. Teknologi tersebut digunakan untuk menggabungkan karakteristik wajah Monroe dengan wajah Johnson.

Tetapi setelah melihat hasilnya, ia berubah pikiran.

Manipulasi digital dianggap membuat penampilan Johnson kehilangan kualitas emosional. Alih-alih membawa penonton lebih dekat kepada karakter Marilyn, teknologi tersebut justru menciptakan jarak.

Karena itu, Gyllenhaal memilih menghapus hasil manipulasi AI tersebut.

Keputusan ini menjadi salah satu aspek paling menarik dari Flesh Impact. Di tengah industri film yang semakin banyak bereksperimen dengan AI untuk menciptakan atau mengubah penampilan aktor, Gyllenhaal justru memilih mempertahankan wajah dan ekspresi aktrisnya sendiri.

Baca Juga: Wacana Pemakzulan, Masinton Pasaribu: “Sejengkal Pun Saya Gak Mundur”

Bagi sang sutradara, persoalan utamanya bukan apakah Dakota Johnson terlihat identik dengan Marilyn Monroe.

Yang ingin dibangun adalah persona Marilyn—seorang perempuan yang selama puluhan tahun hidup di bawah bayang-bayang citra yang dibentuk industri hiburan dan publik.

Bukan Sekadar Meniru Marilyn

Gyllenhaal menggunakan karakter Marilyn dalam film ini untuk membongkar kembali cara Hollywood memperlakukan perempuan.

Marilyn dalam Flesh Impact bukan hanya simbol seks atau legenda layar lebar. Ia digambarkan sebagai seorang perempuan yang menanggung konsekuensi dari popularitas dan eksploitasi citra dirinya.

Baca Juga: Hilang di Hutan, Warga Taput Ditemukan Selamat Setelah Dicari Tim Gabungan

Karena itu, kehadiran Ellen Burstyn menjadi penting.

Marilyn versi 100 tahun memberi ruang bagi karakter tersebut untuk berbicara dari perspektif yang selama ini tidak pernah dimiliki sang ikon: usia tua.

Film ini membayangkan kehidupan yang tidak pernah terjadi sekaligus membuka pertanyaan mengenai bagaimana seorang perempuan yang pernah menjadi objek fantasi Hollywood akan melihat kembali industri tersebut setelah melewati hampir satu abad kehidupan.

Selain Dakota Johnson dan Ellen Burstyn, Flesh Impact turut menampilkan Peter Sarsgaard dan Sepideh Moafi.

Pemutaran perdana di Venice akhirnya membuat film pendek ini menjadi perbincangan bukan hanya karena nama besar Marilyn Monroe, tetapi juga karena pertanyaan yang lebih aktual: ketika teknologi mampu membuat seorang aktor terlihat persis seperti orang lain, apakah kemiripan wajah benar-benar lebih penting daripada manusia yang berada di balik akting? (bbs)

Editor : Editor Satu
Dakota Johnson Marilyn Monroe