Aghniny Haque Hadapi Klaustrofobia, Rela Dikubur dalam Adegan Film Horor

Editor Satu • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 11:11 WIB
Aghniny Haque menghadapi ketakutan klaustrofobia saat menjalani adegan dikubur dalam ruang sempit untuk film Bisikan Desa Gringsing.
Aghniny Haque menghadapi ketakutan klaustrofobia saat menjalani adegan dikubur dalam ruang sempit untuk film Bisikan Desa Gringsing.

JAKARTA, METRODAILY — Aghniny Haque harus menghadapi ketakutannya sendiri ketika menjalani salah satu adegan paling ekstrem dalam film Bisikan Desa Gringsing.

Aktris 29 tahun itu harus beradegan dikubur di ruang sempit, sementara dirinya mengaku memiliki kecenderungan klaustrofobia.

Adegan tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar Aghniny dalam film garapan sutradara Ivander Tedjasukmana itu. Proses syuting berlangsung di Subang sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 dini hari.

Baca Juga: Iis Dahlia Terharu Diajak Umrah Devano: “Ketiban Rezeki”

“Aku sebenarnya agak klaustrofobia. Terbayang, kan, gimana aku harus melakukan adegan dikubur di tempat sempit,” kata Aghniny.

Alih-alih menghindari rasa takut tersebut, Aghniny justru memilih menggunakannya untuk memperkuat emosi karakter Hesti yang diperankannya.

“Aku embrace aja sih. Emosinya keluar natural, terlebih Hesti pun sebenarnya nggak mau ada di situasi itu,” ujarnya.

Bagi Aghniny, ketakutan personal tersebut justru membantu membangun adegan agar terasa lebih nyata. Tekanan yang dirasakan saat berada di ruang sempit dapat diterjemahkan langsung menjadi emosi Hesti.

Baca Juga: Novia Bachmid Tegaskan Identitas sebagai 'Suara Wanita dari Timur'

Proses pengambilan gambar berlangsung cukup lama. Namun, setelah adegan selesai, Aghniny mengaku langsung merasa lega.

Dalam Bisikan Desa Gringsing, Aghniny memang tidak sekadar dituntut menghadapi teror supranatural. Film tersebut memadukan horor dengan trauma personal serta sejarah kelam yang membentuk perjalanan karakter.

Hesti digambarkan sebagai perempuan yang sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia memilih menjauh dari lingkungan sekitar, bahkan dari orang-orang yang sebenarnya ingin membantunya.

Baca Juga: Anthony Gordon Tunjukkan Kelas di Barcelona, 4 Assist dalam Dua Laga

Pencarian terhadap ayahnya yang menghilang di Desa Gringsing kemudian menyeret Hesti ke berbagai rahasia. Perlahan, ia dipaksa berhadapan dengan masa lalu dan luka yang selama ini berusaha dihindarinya.

Karakter itulah yang membuat Aghniny menerima tawaran film tersebut setelah sebelumnya berniat mengurangi proyek horor.

Sejak 2022, hampir setiap tahun Aghniny terlibat dalam film bergenre horor. Ia sempat ingin memperbanyak peran dalam drama maupun film aksi.

Namun, setelah membaca skenario Bisikan Desa Gringsing, keinginannya untuk mengambil jeda dari horor berubah.

Baca Juga: Argentina Cari Kapten Baru Pengganti Messi: Romero Kandidat Terkuat

“Memang sempat kepikiran mau lebih ke drama atau aksi. Tapi ada beberapa produser horor yang menawarkan. Salah satunya, ya, Bisikan Desa Gringsing. Pas aku baca ceritanya, karakter Hesti yang aku perankan ini menarik,” katanya.

Menurut Aghniny, daya tarik utama film tersebut bukan sekadar label horor, melainkan perjalanan emosional Hesti.

“Dia mesti punya perjalanan emosional yang menantang dan pesan yang bisa disampaikan buat penonton. Karakter Hesti dan karakter perempuan lain di Bisikan Desa Gringsing juga bagus. Mereka adalah perempuan yang tak hanya mau dikasihani,” ujarnya.

Baca Juga: Diomande Belum Unjuk Gigi di Real Madrid, Mourinho: Jangan Terburu-buru!

Untuk memahami karakter itu, Aghniny melakukan riset mengenai aspek psikologis korban trauma. Ia menonton sejumlah dokumenter untuk melihat bagaimana pengalaman traumatis memengaruhi perilaku seseorang.

Pendekatan tersebut dilakukan agar kemarahan, sikap menarik diri, hingga keputusan Hesti tidak terasa muncul tanpa sebab.

“Aku mau lihatin apa alasan Hesti marah dan menarik diri,” ucapnya.

Tantangan lain datang dari teknologi virtual production (VP) yang digunakan dalam film tersebut. Produksi yang dilakukan di Singapura dan Malaysia itu memadukan latar virtual melalui layar raksasa dengan set fisik.

Baca Juga: Ayase Ueda Gabung Lille, Calvin Verdonk Dapat Tandem Baru dari Jepang

Komposisinya mencapai 60 persen virtual production dan 40 persen set sungguhan.

Teknologi tersebut membuat pemain harus mengandalkan imajinasi lebih kuat karena sebagian lingkungan dalam adegan tidak benar-benar berada di hadapan mereka. Bahkan, Aghniny harus membayangkan panasnya Desa Gringsing meski proses syuting berlangsung di studio yang bersuhu dingin.

“Imajinasi kami pun sudah terbantu dengan latar di VP. Kami hanya perlu menyesuaikan akting dengan situasi dan latar,” jelasnya.

Baca Juga: Diomande Belum Unjuk Gigi di Real Madrid, Mourinho: Jangan Terburu-buru!

Menurut Aghniny, teknologi tersebut justru mempermudah sejumlah adegan yang sulit dilakukan secara konvensional. Adegan malam tidak harus menunggu malam, sementara adegan pengejaran menggunakan mobil juga dapat diproduksi lebih efisien.

Meski sempat berniat menjauh dari film horor, pengalaman di Bisikan Desa Gringsing membuat Aghniny tidak ingin menutup pintu terhadap genre tersebut.

“Wah, kalau sekarang aku lebih ke never say never, ya. Apalagi juga horor di Indonesia itu market dan peminatnya banyak,” katanya.

Baca Juga: Valencia Amankan Harvey Elliott dari Liverpool dengan Status Pinjaman

Pada akhirnya, Bisikan Desa Gringsing bagi Aghniny bukan hanya soal hantu dan teror. Film ini menjadi ruang untuk mengeksplorasi trauma, kehilangan, ketakutan, serta keberanian seseorang untuk menghadapi masa lalu.

Dan untuk memerankan Hesti, Aghniny tidak hanya harus berhadapan dengan teror dalam cerita. Ia juga harus masuk ke ruang sempit dan berhadapan dengan ketakutannya sendiri. (net)

Editor : Editor Satu
Aghniny Haque