Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Anak Masuk SMP, Arumi Bachsin Mendadak Merasa Tua: Ternyata Sudah Besar

Editor Satu • Kamis, 11 Juni 2026 | 07:30 WIB
 Arumi Bachsin saat menghadiri kelulusan putri sulungnya, Keisha, lulus SD dan bersiap memasuki jenjang SMP.
Arumi Bachsin saat menghadiri kelulusan putri sulungnya, Keisha, lulus SD dan bersiap memasuki jenjang SMP.

JAKARTA, METRODAILY – Momen kelulusan anak pertama menjadi pengalaman emosional bagi Arumi Bachsin. Putri sulungnya, Lakeisha Ariestia Dardak atau yang akrab disapa Keisha, baru saja menyelesaikan pendidikan sekolah dasar dan bersiap memasuki jenjang SMP.

Perubahan itu membuat Arumi tersadar bahwa waktu berjalan begitu cepat. Ia bahkan mengaku mulai merasa dirinya bertambah tua karena sang anak kini telah beranjak remaja.

“Mau punya anak yang SMP tuh aku merasa, ‘Oh, akunya udah tua ya, anak udah gede.’ Nah, ternyata emang beda banget,” ujar Arumi saat ditemui di Studio Pagi-pagi Ambyar Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan.

Istri Emil Dardak itu mengaku sering melihat kembali foto-foto Keisha sejak duduk di bangku kelas 1 SD hingga kelas 5. Dari sana, ia menyadari perubahan besar yang terjadi pada karakter putrinya.

“Dulu ngeliatin foto-foto dia dari zaman SD yang masih kelas kecil, terus kelas 5, itu ternyata udah beda banget karakternya,” ungkapnya.

Menurut Arumi, memasuki usia remaja membawa perubahan yang cukup signifikan. Di satu sisi, anak menjadi lebih mudah diajak berdiskusi. Namun di sisi lain, mereka mulai memiliki pendapat, selera, dan pilihan sendiri.

“Jadi aku tuh harus hati-hati. Misalnya pilihin baju, pilihin ini, dia udah punya selera sendiri,” katanya.

Arumi pun menceritakan perubahan kecil yang kini sering terjadi dalam kesehariannya bersama Keisha.

“Kalau waktu kecil kan enak, dipakein apa aja mau. Tapi sekarang kadang-kadang mamanya yang lupa. Jadi kayak, ‘Kak, pakai yang ini aja.’ Terus dia bilang, ‘Enggak, aku lebih suka yang ini.’ Oh ternyata bagus juga sih,” ujarnya sambil tersenyum.

Terkait persiapan memasuki SMP, Arumi mengaku tidak memberikan perlakuan khusus kepada putrinya. Ia hanya berharap Keisha tetap mempertahankan kebiasaan positif yang selama ini telah terbentuk.

Menurutnya, Keisha termasuk anak yang mandiri dan memiliki kesadaran tinggi terhadap tanggung jawab sekolah.

“Jadi anaknya cukup rajin. Terus ada usahanya. Jadi bukan cuma sekolah terus pulang. Kalau ada tes atau tugas, dia memang belajar,” jelas Arumi.

Ia juga mengungkapkan bahwa putrinya sudah terbiasa mengatur jadwal kegiatan tanpa harus terus diingatkan.

“Anaknya tuh enggak perlu mamanya omel-omelin. Dia udah tertata gitu loh. Dia hafal schedule-nya,” lanjutnya.

Meski demikian, Arumi menyadari masa remaja akan menghadirkan tantangan yang lebih kompleks. Ia memahami bahwa ketertarikan terhadap penampilan dan pergaulan merupakan hal yang wajar terjadi pada anak seusia Keisha.

Namun, ia berharap rutinitas positif yang telah terbentuk tetap dapat dipertahankan.

“Karena nanti semakin remaja biasanya udah pengen dandan, pengen ini dan itu. Normal sih. Tapi kadang-kadang rutinitasnya jadi terganggu. Nah, yang positifnya tetap dipertahankan sambil berkembang,” tuturnya.

Sebagai orang tua, Arumi juga memiliki kekhawatiran tersendiri terhadap tantangan generasi saat ini, terutama terkait penggunaan teknologi dan media sosial.

Menurutnya, lingkungan pergaulan anak-anak sekarang jauh berbeda dibandingkan ketika dirinya masih seusia Keisha.

“Anak zaman sekarang kan udah mulai pegang HP sendiri, walaupun masih diawasi. Tapi anak zaman saya waktu seumur dia sama sekarang dia, kan beda. Tantangannya beda, pergaulannya beda,” ujarnya.

Karena itu, Arumi dan Emil Dardak berusaha terus membangun komunikasi yang terbuka dengan putri mereka. Bagi Arumi, keterbukaan anak kepada orang tua jauh lebih penting dibandingkan hal lainnya.

“Kadang-kadang di usia segini apa kata teman itu lebih dipercaya. Tapi buat kita, selama dia masih mau cerita, itu udah paling bener dan paling bikin senang,” katanya.

Arumi berharap hubungan yang terbuka itu tetap terjaga seiring bertambahnya usia sang anak. Dengan begitu, orang tua dapat terus memberikan arahan dan pendampingan ketika dibutuhkan.

“Kalau dia mau cerita, kita bisa bantu awasin, bisa kasih tahu mana yang benar dan mana yang enggak. Mudah-mudahan tetap mau terbuka sama orang tuanya,” pungkasnya. (dtc)

Editor : Editor Satu
#arumi bachsin