JAKARTA, METRODAILY – Kabar duka datang dari keluarga Gisella Anastasia. Mantan istri Gading Marten itu tengah berduka atas kepergian sang opung (nenek) tercinta.
Meski diliputi kesedihan, Gisel mengaku keluarganya juga merasakan kelegaan karena sang opung telah terbebas dari rasa sakit yang selama ini dideritanya. Ia percaya neneknya kini telah kembali ke rumah Bapa di surga.
Melalui unggahan di Instagram, Gisel membagikan refleksi mendalam tentang momen perpisahan tersebut.
Baca Juga: 18 Tahun Menjanda, Yuni Shara Belum Tertarik Menikah Lagi
Menurutnya, hari pemakaman dipenuhi berbagai perasaan yang bercampur menjadi satu, mulai dari kehilangan, syukur, hingga kebersamaan keluarga besar yang hadir memberikan penghormatan terakhir.
"Hari yang rasanya campur aduk. Tidak lepas dari duka kehilangan orang yang kami sayangi yang punya segudang kebaikan untuk diingat, namun juga sedikit kelegaan karena Opung sudah nggak sakit lagi dan kami percaya Opung sudah berbahagia pulang ke rumah Bapa di surga," tulis Gisel.
Dalam kesempatan itu, Gisel juga mengungkap makna adat Batak yang dijalani keluarganya saat prosesi pemakaman.
Baca Juga: Dihujat Tak Bayar Korban Penipuan, Melaney Ricardo Bongkar Tarif Bintang Tamu Podcastnya
Ia menjelaskan bahwa sang opung berpulang dalam status saur matua, yakni seseorang yang telah menyelesaikan perjalanan hidupnya dengan menyaksikan anak, cucu, dan keturunannya bertumbuh hingga dewasa.
Karena itu, menurut tradisi Batak, suasana duka tidak hanya diisi tangisan, tetapi juga ungkapan syukur atas kehidupan yang telah dijalani dengan lengkap dan penuh kasih.
"Di tengah dukacita ini, kami juga belajar memaknai adat tradisi kami, dimana saat seseorang berpulang dalam status saur matua, keluarga tidak hanya menangis, tapi juga mengucap syukur. Syukur karena Opung sudah menuntaskan tugasnya di dunia, melihat anak, cucu, dan keluarga besarnya bertumbuh lengkap dalam kasih," ungkapnya.
Baca Juga: Kai Havertz Bersinar, Jerman Tundukkan Amerika Serikat 2-1
Prosesi pemakaman berlangsung dengan nuansa adat yang kental. Doa, pelukan, tangisan, hingga tortor menjadi bagian dari rangkaian penghormatan terakhir kepada almarhumah.
Bagi Gisel, kehadiran tortor dan berbagai unsur budaya Batak bukan berarti keluarga tidak berduka. Sebaliknya, hal itu merupakan simbol cinta, penghormatan, dan rasa syukur atas kehidupan yang telah dijalani sang opung.
"Mungkin itu sebabnya hari ini dipenuhi doa, pelukan, tangisan, sekaligus tortor dan kebersamaan keluarga. Bukan karena kami tidak berduka, tapi karena cinta dan penghormatan terakhir itu dirayakan dengan penuh makna," katanya.
Baca Juga: Rafael Leao Dikartu Merah, Portugal Tetap Tumbangkan Chile 2-1 Jelang Piala Dunia 2026
Gisel juga mengenang pesan hidup yang selama ini selalu dipegang oleh sang opung.
"Akan selalu kami ingat slogan hidup Opung, 'Indah pada waktunya'," ujarnya.
Tak lupa, ibu dari Gempita Nora Marten itu menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan doa dan dukungan kepada keluarganya selama masa berkabung.
"Terima kasih untuk setiap doa dan kasih yang mengiringi perjalanan terakhir Opung," tulisnya.
Baca Juga: Belgia Bantai Tunisia 5-0, Kevin De Bruyne Ikut Pesta Gol
Di tengah prosesi adat yang berlangsung cukup panjang, perhatian Gisel juga tertuju kepada putrinya, Gempi. Menurutnya, ini merupakan pengalaman pertama bagi Gempi mengikuti rangkaian adat Batak secara penuh.
Gisel mengaku gemas melihat putrinya yang sempat kebingungan menghadapi suasana yang tidak biasa. Gempi harus memahami mengapa sebuah acara yang penuh kesedihan justru diiringi musik, tortor, dan kebersamaan keluarga besar.
"Kayaknya ini pertama kali Gempi benar-benar terlibat dalam adat Batak agak panjang. Gemas lihat dia bingung tapi belajar menyesuaikan diri. Bingung kok sedih tapi kok malah ada musik-musik dan nari-nari," ungkap Gisel.
Baca Juga: Real Madrid Siapkan Rp3 Triliun untuk Michael Olise? Ini Kata Deschamps
Momen tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Gempi untuk lebih mengenal akar budaya Batak dalam keluarganya. Meski awalnya tampak kebingungan, putri semata wayang Gisel itu berusaha mengikuti seluruh rangkaian prosesi dengan penuh hormat.
Di balik suasana duka, keluarga besar Gisel pun menjadikan momen tersebut sebagai kesempatan untuk mengenang warisan nilai, kasih sayang, dan kebersamaan yang selama ini ditanamkan oleh sang opung kepada seluruh anggota keluarga. (net)
Editor : Editor Satu