SIANTAR, METRODAILY – Ribuan umat Buddha mengikuti ritual Pradaksina dalam rangka peringatan Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE Tahun 2026 di Kota Pematangsiantar, Sabtu (16/5) malam.
Kegiatan yang dipusatkan di Vihara Samiddha Bhagya, Jalan Thamrin, Kelurahan Dwikora, Kecamatan Siantar Barat itu dibuka langsung oleh Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi didampingi Ketua TP PKK Liswati Wesly Silalahi.
Dalam sambutannya, Wesly menyampaikan apresiasi kepada DPD Walubi Pematangsiantar-Simalungun dan seluruh panitia yang telah menyelenggarakan ritual keagamaan tersebut dengan penuh semangat kebersamaan dan nilai spiritual.
Baca Juga: Ashanti Sandang Gelar Doktor, Disertasinya soal Adaptasi Penyanyi Senior di Era Digital
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Pematangsiantar, saya menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada DPD Walubi Pematangsiantar-Simalungun beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan ini dengan penuh semangat kebersamaan dan nilai-nilai spiritual,” katanya.
Menurut Wesly, Hari Raya Trisuci Waisak menjadi momentum suci bagi umat Buddha untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha Gautama, yakni kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan wafatnya Sang Buddha.
Ia menilai nilai-nilai luhur seperti cinta kasih, kedamaian, pengendalian diri, dan toleransi sangat relevan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini.
Baca Juga: Bawa Ganja 2 Ball di Padangsidimpuan, 2 Pria Dicegat 1 Berhasil Kabur
“Kegiatan Pradaksina yang dilaksanakan malam ini bukan hanya menjadi simbol spiritual dan religius, tetapi juga menjadi wujud nyata harmoni serta kerukunan umat beragama di Kota Pematangsiantar,” ujarnya.
Wesly juga menegaskan Pemko Pematangsiantar terus mendukung kegiatan keagamaan yang membawa pesan damai, toleransi, dan kebersamaan.
“Kita patut bersyukur karena Kota Siantar terus dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai keberagaman dan hidup rukun antar umat beragama,” tuturnya.
Baca Juga: Renovasi Tuntas, Jembatan Merah Putih di Sei Merbau Tanjungbalai Diserahkan Kepada Warga
Sementara itu, Ketua DPD Walubi Provinsi Sumatera Utara Brillian Moktar mengatakan ritual Pradaksina memiliki makna kesadaran dalam ajaran Buddha.
“Pradaksina ini ada hubungan dengan kesadaran, kita melangkah, kita renungkan,” katanya.
Ia juga mengingatkan umat Buddha agar terus menjaga kesabaran serta memperkuat kerukunan antarumat beragama di Kota Pematangsiantar.
“Maka kita harus meningkat lagi, nomor satu di Indonesia untuk kerukunan umat beragama di Siantar,” ujarnya.
Baca Juga: Bawa 900 Liter Solar Subsidi, 1 Pria Diamankan Polres Tapsel di Halongonan Timur
Ketua DPD Walubi Pematangsiantar-Simalungun Susanto atau Aleng mengatakan Waisak bukan sekadar peringatan historis, melainkan sumber inspirasi untuk terus menapaki jalan damai dalam kehidupan sehari-hari.
“Di tengah tantangan kehidupan modern, ajaran Buddha mengingatkan kita untuk senantiasa mengembangkan cinta kasih, welas asih, simpati atas kebahagiaan orang lain, serta keseimbangan batin,” katanya.
Ketua Panitia Erbin Chandra menjelaskan ritual Pradaksina bukan sekadar pawai atau euforia semata, melainkan momentum refleksi diri.
Baca Juga: Layani Bantuan Hukum Gratis Bagi Warga, Ketua PN Tanjungbalai Apresiasi LBH Keadilan Setara
“Tujuan kita bukan pawai, bukan heboh-hebohan, tapi momen bagi kita untuk merefleksikan apa yang sudah kita perbuat selama satu tahun terakhir,” katanya.
Ia menyebut peserta ritual membawa lilin elektrik yang melambangkan kebajikan dan penerangan bagi sesama tanpa memandang perbedaan etnis, suku, ras, maupun agama.
Erbin juga menyinggung capaian Kota Pematangsiantar yang masuk peringkat empat kota paling toleran di Indonesia versi Setara Institute.
“Ini menunjukkan komitmen kita bersama membangun kota yang damai dan toleran,” tandasnya. (rel)